Sabtu, 24 September 2016

UMMATAN WASATHAN



Ummatan Wasathan
    
     Ya Tuhan kami,...sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat Rumah Engkau (Baitullah) yang di hormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).
   
      Setelah Nabi Ibrahim As sampai pada suatu bukit yang bernama ’Kida’, sekembalinya dari mengantar Siti Hajar dan anaknya Ismail ke lembah Makkah, disitulah Nabi Ibrahim berdo’a kepada Allah Swt sebagaimana tertera pada Qs. Ibrahim: 37 diatas. Dan do’a tersebut, kini telah terkabul. Sebagian dari umat di dunia ini telah cenderung hatinya kepada ajaran yang dibawa Nabi Besar Muhammad Saw sebagai titisan/keturunan dari Nabi Ismail As.
       Dalam perjalanan sejarahnya yang cukup panjang, Islam telah dianut oleh kurang lebih 1,2 miliar manusia di belahan dunia. Sebagaimana halnya agama-agama besar dunia lainnya, Islam telah melewati sejumlah fase perkembangan. Lewat sejarahnya yang panjang, umat Islam harus merespon ancaman-ancaman internal dan eksternal demi mempertahankan kehidupan dan vitalitasnya. Sebagai akibatnya, Islam memiliki tradisi pembaruan dan reformasi agama yang panjang, membentang dari zaman terawal sejarahnya sampai sekarang. Kondisi dunia Islam saat ini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, geliat untuk menjalankan syariah Islam merebak di sepanjang nusantara, di sisi lain kehidupan hedonisme dan materialisme menyerap habis-habisan budaya Barat yang berujung pada sekular dan liberalnya pola hidup kaum muslimin. Dalam kenyataan sehari-hari, umat Islam tidak satu suara dalam menjawab berbagai persoalan zaman. Kecenderungan untuk berbeda-beda antar berbagai kelompok ini, sebenarnya lebih merupakan respons yang berbeda dalam memahami ajaran-ajaran dasar agama Islam.
       Bila dalam kenyataan, beralihnya suatu peradaban ke peradaban yang lain, dan umat Islam saat ini sedang dalam keadaan yang memperhatinkan, bukanlah faktor penyebabnya adalah ajaran/agama yang dianut tersebut, sehingga dipandang perlu untuk di reformasi atau diperbarui, ini rasanya kesalahan besar yang tidak mendasar. Karena, sejatinya Islam itulah modernitas. Secara histori Islam hadir untuk memperbarui, meluruskan bahkan merupakan bentuk kesempurnaan bagi agama sebelumnya. Hal ini bukan hanya diakui oleh setiap umat Islam, tapi... seorang Muslim Pakistan misalnya pernah menulis : “Orang yang berpikir tentang reformasi atau modernisasi Islam adalah salah jalan, dan usaha mereka yang berpikir tentang reformasi atau modernisasi Islam itu pasti akan gagal”.
      Kemunduran umat Islam saat ini sebenarnya tidak terlepas dari perjalanan sejarah umat-umat terdahulu yang telah menjadikan umatnya beralih ekstrim ke kanan atau ke kiri, dimana semestinya umat Islam harus mengemban misinya sebagai “ummatan wasathan”, umat yang meyakini kepada ke-Esaan Allah; umat yang adil dalam segala hal/ segala urusan; umat yang tidak mematikan akal ataupun menuhankannya; umat yang memandang agamanya dari sisi rasionalitas dan sisi transendental; umat yang berpandangan hidup paripurna, yang memberikan perhatian kepada aspek-aspek materi sama baiknya dengan perhatiannya terhadap aspek-aspek spiritual; umat yang dalam membelanjakan hartanya, tidak melampaui batas (berlebih-lebihan) dan tidak pula sangat kikir; umat yang dalam berjalanpun diperintahkan agar sederhana; umat yang menjadikan ‘wahyu’ sebagai petunjuk/pedoman dalam menggunakan akal pikiran guna mengarungi kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak; serta umat yang telah diperintahkan Allah untuk memikirkan tentang dunia dan akhirat. (Al-Baqarah : 219-220).
     Jadi, sangat tidak beralasan bagi sebagian pihak yang menganggap bahwa agama Islam adalah agama ukhrawi semata dan untuk itu perlu di ‘duniawi’kan, atau lebih populer dengan istilah men ‘sekuler’ kan agama Islam. Pihak-pihak inilah yang terindikasi adanya kesalahan /kekeliruan dalam menerima, menyerap serta menginterpretasikan Islam kedalam kehidupan pribadi, keluarga maupun kehidupan kelompok / komunitasnya. Islam lahir dengan satu persepsi bahwa manusia cenderung mencintai dunia, sebagaimana tergambar dengan jelas pada firman Allah berikut ini : “sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia” (QS.Al-Qiyaamah :20), “dan meninggalkan (kehidupan) akhirat” (QS. Al-Qiyaamah: 21). Untuk itulah Allah kemudian meridhoi Islam sebagai ad-Dien bagi Nabi Muhammad SAW beserta kaumnya untuk membimbing manusia dalam mengarungi kehidupan dunianya dan mempersiapkan kehidupan akhirat kelak secara berkeseimbangan. Diantara beberapa petunjuk atas hal tersebut, salah satunya dapat kita simak surat Al-Qashash ayat 77 berikut ini: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu(kebahagiaan)negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi,...”. Upaya tersebut sebelumnya telah dirintis oleh Rasul-Rasul terdahulu, namun setiap Nabi (Rasul) tersebut diturunkan, umat-umatnya menghianati mereka sebagaimana firman Allah berikut ini: “demi Allah, sesungguhnya kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi setan, menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka dihari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih” (QS. An-Nahl : 36).
     Al-Qur’an telah menyampaikan pula bahwa agama tauhid adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. Namun apa yang terjadi pada umat-umat terdahulu adalah mengadakan sembahan-sembahan lain selain Allah, disamping juga telah menjadikan dunia satu-satunya tujuan hidup mereka.
    Karena orientasi keduaniawiannya, manusia seringkali melupakan kehidupan akhirat. Karena cara pandangannya yang positivistik, manusia menafikan sesuatu yang bersifat rohaniah. Karena prasangkanya akan hidup abadi di dunia, manusia meninggalkan sesuatu yang bersifat spiritual. Manusia seringkali melupakan nilai-nilai luhur ajaran agama. Oleh karenanya terbentuklah manusia-manusia beragama tapi tidak beriman, padahal Al-Qur’an telah mengingatkan kita bahwa: ”orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa, bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat kelak” (QS. Yunus : 63-64).
     Islam yang dicapai dengan iman dan Islam yang tanpa iman, oleh Al-Qur’an dibedakan sebagaimana ayat berikut ini: “Orang-orang Arab badwi itu berkata, ‘Kami sudah beriman’. Katakanlah (kepada mereka) ‘Kamu belum beriman, tapi katakan saja: kami sudah Islam’. Iman itu belum lagi masuk ke dalam hati kamu” (QS. Al-Hujurat: 14). Benar apa yang dikatakan Ibnu Atha’illah dalam kitabnya Al-Hikam, ‘Allah tidak bertempat di ruang yang tinggi, maupun di ruang yang rendah. Allah tidak berada di langit atau di bumi. Allah berada di dalam hati setiap hamba-Nya yang beriman. Alangkah indahnya! Jika si hamba mencari Allah, maka carilah ia di sana’. Menjadi jelaslah bagi kita apa yang didefinisikan Al-Qur’an melalui surat Al-Anfaal ayat 2 yang artinya : sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”.
    Dan pengertian iman itu sendiri menurut ‘catatan kaki’ Al-Qur’an dan terjemahannya, adalah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Adapun tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang di kehendaki oleh iman itu.


Kesimpulan (analogous)
        
       Pada hakikatnya, manusia tercipta dari dua unsur yang berbeda, yaitu unsur bumi, unsur tanah yang rendah, dan unsur langit yang tinggi. Allah menciptakan manusia dari segenggam tanah kering yang berbau busuk. Itulah yang kemudian menjelma sebagai fisik manusia dengan segala macam ketertarikannya kepada dunia dan hal-hal yang berbau materi. Tak heran bila manusia butuh makan, minum, berhubungan seks, dan lainnya.
     Di sela-sela proses penciptaan itu berlangsung, Allah pun meniupkan ruh-Nya ke dalam wujud manusia tersebut hingga ia memiliki kecenderungan untuk “melangit”, menuju hal-hal spiritual. Dengan ruh, manusia diantar menuju tujuan non-materi yang tidak bisa diukur dilaboratorium sekalipun. Dimensi inilah yang mengantarkan manusia pada keindahan, pengorbanan, pemujaan, rasa cinta, kesetiaan, kenikmatan beribadah, dan lainnya. Hingga akhirnya, manusia menuju suatu realitas Mahasempurna, yang gaib, tanpa batas, tanpa akhir, dan tanpa cacat. Itulah Allah Rabbul’alamin.
     Kualitas seorang manusia sangat di tentukan oleh interaksi kedua unsur tersebut. Apabila daya tarik unsur bumi lebih kuat, maka manusia tak akan jauh beda dengan binatang bahkan lebih buas atau lebih bodoh darinya. Ia akan sekuat tenaga mencari sebanyak mungkin materi, dengan mengabaikan suara hati. Tapi bila unsur langit lebih kuat tarikannya, maka manusia akan menjadi “malaikat” yang terlahir di dunia. Walaupun demikian, tanpa adanya jasad atau keinginan yang bersifat materi, ia tidak akan dianggap manusia.
     Idealnya, harus terdapat keseimbangan interaksi di antara keduanya, dengan posisi daya tarik unsur langit berada di atas unsur bumi. Mengapa demikian? Karena kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi. Manusia bukanlah ‘makhluk bumi’ melainkan ‘makhluk langit’ ungkap Thielhard de Chardin, seorang filosof Prancis. Hakikatnya, kita adalah makhluk langit yang diturunkan Allah ke bumi untuk menguji seberapa besar keimanan kita kepada-Nya serta menjalankan misinya sebagai ‘umat pertengahan’ sebagaimana firman Allah berikut ini: Wa kazaalika ja’alnaakum ummataw wasatan,...” (QS. Al-Baqarah: 143). Allahu a’lam bis shawab !


=&=
By: Chairullah Idris


Minggu, 05 April 2015

ISLAM & HAM



  Sulit kita membayangkan, ada orang di rumah sendiri, di negara sendiri, negara yang berdaulat, diultimatum untuk meninggalkan rumah dan negaranya beserta keluarga dalam waktu 2x24 jam. Apakah memang demikian perilaku pihak yang mengaku penegak demokrasi dan HAM ? Mengapa semua ini bisa terjadi ?  Inilah suatu pertanyaan besar dan sederhana, namun semua pihak di belahan dunia ini belum  mampu untuk menjawabnya secara tepat dan jujur, apalagi untuk berbuat dan bertindak.
      Meskipun di benak masing-masing pihak dapat mereka-reka jawaban atas pertanyaan tersebut di atas, namun  apa daya, kita  semua  tidak  bisa  berbuat  apa-apa. Kita hanya dapat menyaksikan melalui layar televisi, pembantaian habis-habisan atas mahluk-mahluk Allah yang tidak kita ketahui secara pasti apa dosa dan kesalahan mereka. Nampak jelas disini ketidak-berdayaan kita semua, sampai-sampai PBB-pun tunduk patuh kepada negara agresor beserta sekutunya.  Inilah  tragedi kemanusiaan yang  terbesar pada abad kini, dimana semakin majunya zaman dan semakin modernnya umat, namun semakin pula menunjukkan kesewenangan / kemunduran peradaban kemanusiaan.
    Berbicara masalah kemanusiaan, tidaklah dapat dipisahkan begitu saja dari masalah keagamaan, khususnya agama Islam.  Islam adalah Ad-Dien yang sempurna. Agama yang tidak sekedar mengatur bagaimana caranya beribadah kepada Al-Khalik   tetapi sekaligus menjawab problematika kehidupan manusia, termasuk didalamnya masalah HAM dan lingkungan-hidup serta bagaimana menciptakan keseimbangan   ekosistem yang ada dalam kehidupan. Agama Islam membina kehidupan manusia yang di awali dengan tauhid. Ilmu tauhid bertujuan untuk memantapkan keyakinan dan kepercayaan agama melalui akal fikiran, disamping kemantapan hati yang didasarkan pada wahyu. Wahyu menolong akal dalam mengatur masyarakat atas dasar prinsip-prinsip umum yang dibawanya, serta mendidik manusia untuk hidup damai dan tenteram antara sesamanya. Wahyu membawa syariat yang mendorong manusia untuk menunaikan kewajiban seperti kejujuran, kebenaran, keadilan, kebaikan dan  keikhlasan.
    Untuk mencapai kehidupan yang damai, tenteram antara sesamanya, dibutuhkan kesadaran yang tinggi akan rasa persaudaraan, persamaan dan kebebasan. Meskipun ketiga idiom tersebut berasal dari al-Quran, namun tak urung pula pihak Barat-lah yang telah mengklaim bahwa pemikiran tentang Hak Azazi Manusia (HAM) tersebut diilhami oleh Revolusi Perancis yang pecah pada tanggal 5 Mei 1789 di kota Versailles dengan slogan: liberte, egalite et fraternite . 
    Diskursus HAM, Demokrasi dan Lingkungan Hidup memang tidak pernah usai. Semua konsep dan tata nilai di tawarkan untuk di nilai, manakah yang lebih handal. Faktanya, semua mengakui bahwa pendekar dan pejuang HAM yang ada relatif terhegemoni oleh tata nilai Barat sebagai fihak yang mengklaim sebagai cikal bakal HAM, Demokrasi dan Lingkungan Hidup itu sendiri. Belum pernah ada solusi alternatif cerdas ditawarkan, atau kalaupun ada tetapi selalu dipandang sinis dan penuh dengan nuansa kecurigaan tak beralasan. Terlebih lagi apabila konsep dan tata nilai itu datang dari komunitas Islam, maka yang muncul adalah Islam Phobia sebelum terlebih dahulu betul-betul meneliti dan mengkajinya.      
    Padahal bila kita berkenan mengkaji dan meneliti secara seksama dan lebih mendalam atas kandungan al-Quran, khususnya ayat-ayat yang menghantarkan kita ke alam Demokrasi, HAM dan Lingkungan Hidup, maka tidaklah akan terjadi kesimpangsiuran pemahaman antar sesama umat Islam maupun terhadap pihak Barat yang jelas-jelas telah mengadopsi paham / ajaran Islam dan menyatakan bahwa temuan-temuan tersebut adalah berasal dari mereka, sehingga umat Islam sendiri  terpecah menjadi dua kelompok besar masing-masing yang menganggap bahwa konsep HAM, Demokrasi dan Lingkungan Hidup adalah murni berasal dari Barat sehingga apa saja yang terkait dengan ketiga topik tersebut adalah haram hukumnya, sedangkan yang lain adalah kelompok yang sebenarnya mengetahui keberadaan konsep-konsep tersebut berasal dari Islam, namun karena yang mendiklair secara resmi adalah fihak barat dan juga sudah terlanjur menganggap semua yang datang dari Barat adalah baik, maka kelompok ini adalah yang mengagungkan dan menerapkan secara penuh konsep-konsep tersebut sebagai produk Barat yang dibanggakan.
    Agar selisih paham tersebut tidak membawa pengaruh lebih jauh yang tidak bermanfaat bagi kita semua, kiranya perlu kita kaji bersama hal-hal yang mendasari penegakan HAM dari perspektif Islam, pertama ayat 183 surat Asy-Syuara yang menyatakan : Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan jangan lah kamu merajalela dimuka bumi dengan membuat kerusakan; kedua  ayat 33 surat Al-Araf yang berbunyi : Tuhan-ku hanya mengharamkan; perbuatan keji, perbuatan dosa, melanggar Hak Manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dan mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui; ketiga adalah praktek penerapannya di dalam kehidupan bernegara yang diawali dalam Konstitusi Madinah. Sebagai suatu kontrak sosial, untuk pertama kalinya penyebutan dasar-dasar masyarakat partisipatif dan egaliter dengan ciri utamanya yakni pengakuan terhadap hak-hak azazi tanpa diskriminasi, baik Muslim maupun Yahudi dan semua pendukung konstitusi tersebut. 
    Menjadi jelas permasalahannya, dan mudah-mudahan dapat terjawab pertanyaan besar dan sederhana tersebut di atas, tidak lain hanya karena mereka telah mengadopsi konsep ajaran Islam dan mempublikasikan konsep tersebut adalah murni temuan mereka. Jadi mereka tidak tahu dan tidak mampu untuk menerapkan serta mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata, mengingat konsep yang satu dengan konsep yang lainnya amat bertentangan dan sulit untuk diterapkan secara bersamaan. Dan semakin jelas lagi bahwa, globalisasi HAM hanya merupakan agenda penting bagi kaum kapitalis dalam rangka serangan kebudayaan / peradaban terhadap umat Islam, sebagaimana yang dikatakan oleh Dr.Sami Sholeh Wakil : Imperialisme barat mempropagandakan keseluruh dunia terhadap pandangan hidupnya yang dikemas dalam HAM dan bergerak terhadap negara-negara agar menegakkan pandangan ini dengan methode pelaksanaan Imperialisme. Sekedar bukti konkrit, setelah meng-ultimatum dan meluluh-lantakkan, kemudian mengendalikannya melalui kekuasaan pendudukan yang pada gilirannya mengeluarkan larangan untuk mendirikan negara Islam. Sungguh memilukan memang, Barat dengan segala propagandanya tidak akan pernah berhenti berusaha agar kaum muslimin selalu jauh dari ajaran yang sebenarnya (baca : QS.Al-Baqarah:120).
    Untuk itu, kini saat yang tepat bagi kita kaum Muslimin kembali merenung dan koreksi diri, apakah kita sudah berada pada jalan yang dikehendaki dan diridhoi-Nya ?. Sebagaimana pada bagian akhir isi khotbahnya yang bersejarah, Khalifah Umar r.a,   dalam perjalanan pulang menuju Madinah, singgah sejenak di Jabiah setelah menerima penyerahan kota suci Jerusalem dari Patriarch Jerusalem Uskup Agung Sophronius, menyebutkan: Al-Quran tidak membawa pesan-pesan ukhrawi belaka, ia terutama ditujukan untuk menuntun engkau sekalian dalam kehidupan di dunia ini. Bangunlah kehidupanmu sesuai dengan ajaran Islam, karena itulah jalan hidup bagi keselamatanmu. Bila mengikuti jalan yang yang lain engkau hanya akan mengundang kehancuran. Jalan yang dimaksud tentunya adalah jalan yang lurus, dan untuk menempuh jalan tersebut diperlukan peta / petunjuk yaitu al-Quran yang dapat dijadikan pedoman / landasan pijak dalam menyusun tata kehidupan / tata nilai hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.    
    Jujur kita akui, bahwa al-Quran bukanlah buku yang menghimpun seluruh teori ilmu pengetahuan, bukan pula ensklopedia yang memuat seluruh jawaban ilmu yang dipersoalkan. Al-Quran hanya meletakkan prinsip dasar ilmu pengetahuan dan prediksi-prediksi yang mengandung motivasi eksplorasi ilmiah. Mengapa demikian ? Karena lebih dari itu al-Quran adalah merupakan Kitab Suci.   Wassalaam ! 


                                                                              ===@===

                   









           
                       
           

Selasa, 07 Januari 2014

Kembali kepada Al-Qur’an



Kembali kepada Al-Qur’an
    
    Semboyan Kembali kepada Al-Quran sudah banyak didengungkan orang, semua sepakat, itulah formula yang akan dapat mengangkat umat Islam dari ketertinggalannya, dan mengantarkan mereka kepada suatu kebangkitan kembali yang didambakan. Tapi, sudahkah umat Islam mengenal Kitab suci ini ? Atau sudah benarkah pengenalannya selama ini ? Tanpa pengenalan yang benar, semboyan itu tidak akan punya arti apa-apa dan tidak akan membawa kita kemana-mana.
    Al-Quran adalah wahyu dari Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantaraan Malaikat Jibril dan selanjutnya untuk diteruskan kepada seluruh umat manusia guna dijadikan petunjuk/pedoman dalam menempuh jalan kehidupan yang di-ridhoi Allah, yakni jalan yang lurus.
    Sebagai Kitab Allah, Al-Quran menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama dari seluruh ajaran Islam. Dan diawal kelahirannya, umat Islam sangat komitmen dengan Al-Quran. Mereka bukan hanya menjunjung tinggi kitab Ilahi ini, namun mereka mampu bersenyawa dan meng-aplikasikannya dalam keseharian. Dan, hasil yang dicapai sungguh sangat optimal, mereka sanggup mencapai suatu batasan yang agung di mata dunia dan dalam berbagai lapangan kehidupan.
    Namun, generasi pelanjutnya semakin kemari kian surut. Umat Islam sudah jauh dari Al-Quran. Al-Quran pun tinggal tulisan yang dihias warna-warni yang tak dipahami pesan-pesannya untuk membangun pranata hidup dan peradaban. Akibatnya, muncullah berbagai penyakit yang membuat keropos bangunan Islam. Mulai dari perpecahan, syubhat, khianat, ketidakadilan, ketidakjujuran, salah urus, kemiskinan, runtuhnya nilai etika dan estetika, beribadah salah kaprah, keterbelakangan dan penyakit kronis lainnya. Nasib umat Islam di berbagai belahan dunia sama; mereka dilecehkan…. dihinakan…. dinomorduakan... bahkan, ... diluluhlantakkan!         
     Lalu apa solusinya ? Tidak lain harus kembali kepada Al-Quran dan memahaminya secara integral, menyeluruh dan sistematis, sebagaimana telah difirmankan Allah Swt melalui 2 (dua) ayat-Nya masing-masing terjemahannya sbb:
* “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. (QS. An-Nahl : 44).
* Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang didalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya ? (Q.S. Anbiya : 10).
    
     Dari kedua ayat tersebut diatas, jelas bagi kita, bahwa telah diperintahkan kepada umat manusia untuk dapat memahami isi Al-Quran dengan cara memikirkan, mempelajari, serta menggali kandungan ayat-ayat Ilahi tersebut guna dijadikan pedoman dan petunjuk bagi siapa saja yang menghendaki kemuliaan. Dan sekaligus mengaplikasikannya dalam keseharian, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun bangsa yang mencakup segala aspek kehidupan manusia (ekonomi, politik, , seni, budaya, dan pendidikan).
    Namun disinilah letak persoalan yang kita hadapi, dimana Islam sebagai ‘Agama Masjid’ senantiasa survive. Kendati, dalam tatanan bermasyarakat dan berbangsa, Islam terus terombang-ambing, mengalami kemunduran dan terpojokkan. Di Republik ini, sejak awal masa kemerdekaan, oleh The founding father kita telah mulai dicanangkan, dimana Negara Republik Indonesia akan dijadikan negara modern, melalui upaya ‘sekularisasi dan pembaratan masyarakat Islam’. Hal ini sangat terinspirasi oleh rekan seperjuangannya Kemal At Tatturk yang baru saja memperoleh kemerdekaan Turki, dan juga telah berhasil menerapkan program modernisasi di Negaranya. Dan kenyataannya saat ini, masyarakat Indonesia sudah berhasil dengan sempurna memisahkan kehidupan beragama dari kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Dan yang lebih menakjubkan lagi, masyarakat Indonesia telah berhasil pula menjadi lebih Barat dari bangsa Barat-nya sendiri. Ironis memang, di  yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam dan memperoleh kemerdekaan melalui gema suara takbir, namun  spiritual tidak dijadikan bahan pertimbangan sebagai dasar pemikiran dalam pengelolaan suatu masyarakat bangsa. Apakah gerangan penyebab tertolaknya upaya tersebut ? Allahhu alam!  Namun paling tidak kami mencatat adanya beberapa  penyebab, baik dari intern umat Islam sendiri maupun dari fihak ekstern, antara lain:
- Dampak masa penjajahan     
      Snouck Hurgronje, yang merupakan peletak dasar kebijaksanaan  Belanda mengenai Islam di Indonesia telah berupaya agar Islam hanya menjadi Agama masjid, artinya agama sebagai ibadah kepada Tuhan semata. Akibatnya, kita hanya sujud kepada Allah Swt di masjid, tetapi diluar masjid kita menjadi pelaku maksiat yang ulung. Kebijaksanaan yang melatarbelakangi politik netral-agama itu diajukan karena Snouck Hurgronje melihat bahwa musuh pemerintah Hindia Belanda itu bukanlah Islam sebagai agama, melainkan Islam sebagai kekuatan atau doktrin politik.                                                                          
- Pengaruh aliran politik dalam Islam       
     Masalah-masalah politik dalam Islam pada mulanya berpangkal dari masalah  penentuan pengganti Nabi Muhammad Saw dalam urusan  dan agama. Dalam kaitan ini kemudian muncul beberapa aliran politik dalam Islam, yaitu khawarij, suni, dan syiah. Aliran khawarij dan syiah menolak pendapat yang mengatakan bahwa Islam tidak ada hubungannya dengan kehidupan bernegara. Keduanya berpendirian bahwa Islam mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk kehidupan bernegara. Sementara aliran suni berpendirian bahwa Islam tidak ada hubungannya dengan . Nabi Muhammad Saw, sebagaimana rasul-rasul sebelumnya, hanya berfungsi sebagai rasul, tidak sebagai kepala . Penduduk muslim Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, dan pada umumnya mereka penganut Ahlusunah waljamaah (suni), bermazhab terutama Mazhab Syafii.
- Pengaruh Pendidikan barat
     Para Intelektual Muslim yang telah terkontaminasi oleh adigium yang mengatakan: Berikan apa yang menjadi milik Kaisar kepada Kaisar dan apa yang menjadi milik Tuhan kepada Tuhan. Sedangkan, filsafat Islam menegaskan bahwa Kaisar dan apa yang menjadi miliknya adalah milik Allah Swt. Dan apa yang ada di muka bumi dan alam jagat raya ini merupakan milik-Nya jua. Islam adalah agama universal yang mengatur segala sendi kehidupan manusia, yang mencakup akidah, ibadah, dan syariah serta menetapkan prinsip-prinsip dasar yang menghasilkan syariah-syariah yang mengatur kehidupan individu, keluarga, kondisi dan situasi  masyarakat, dan relasi-relasi alam secara konstruktif.
- Propaganda Sekularisme
     Dalam memposisikan agama ke dalam filsafat politik sekuler, ada perbedaan pendapat, diantaranya ada model sekuler Barat liberal yang menempatkan agama bukan sebagai sesuatu yang tabu, tetapi juga bukan  mendasar terhadap kebijakan . Urusan  dijalankan secara terpisah dari pertimbangan agama. Di Inggris misalnya, Kristen Anglikan menjadi agama  dan raja atau ratu dianggap sebagai kepala Gereja Anglikan. Meski demikian, agama tidak berperan dalam urusan . Di -negara Barat lain, kurang lebih mengambil sikap yang sama. Negara tetap independen dari gereja, dan  merupakan dua domain yang sama sekali berbeda dan tidak saling mencampuri. Sampai batas tertentu, model Barat ini lebih dekat dengan filsafat politik sekuler. Dengan propaganda inilah masyarakat Indonesia cenderung mengikuti perkembangan segala sesuatu yang berasal dari Barat, termasuk perkembangan kehidupan beragama.
     Dari -unsur tersebut diataslah, sejak berdirinya Republik ini kehidupan bermasyarakat dan berbangsa kita sudah mulai terpisah dari kehidupan beragama. Semakin jauh kita mengayuh biduk kenegaraan, semakin jauh pula tertinggalnya kehidupan keagamaan kita. Sehingga apapun yang kita perbuat, hasil yang kita peroleh adalah jauh dari apa yang kita harapkan, langkah apapun yang diambil akan menimbulkan huru-hara, saling curiga, saling tuduh, saling fitnah, saling hujat, bahkan saling bunuh dan pada akhirnya bermuara pada kerusuhan / kehancuran. Kisah umat-umat terdahulu yang dipaparkan Al-Quran seharusnya dapat diambil contoh. Kaum Saba, Tsamud, Ad, Kanan, Bani Israil dan Abu Jahal, termasuk serangkaian sosok sejarah yang menjadi bukti secara alamiah bahwa mengingkari kebenaran akan berakhir dengan keterpurukan. Allah telah menegaskan : Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka termasuk orang-orang kafir, zalim dan fasik (QS Al-Maidah: 44,45, dan 47). Menurut ayat tersebut, orang yang enggan berhukum menurut  Allah disebabkan oleh tiga hal ; karena tidak percaya (kufur), berdasarkan hawa nafsu dan nalar (logic) yang justru menganiaya / membohongi diri sendiri (zalim), dan mempercayai kebenaran sebatas lip-service dan retorika belaka (fasik).
    Para pakar tafsir menyebutkan bahwa yang diturunkan Allah itu ada tiga : Al-Quran, Sunnah, dan akal. Dua yang pertama wahyu, dan yang terakhir fitrah. Hadis Muadz bin Jabal yang terkenal itu mengisaratkan agar kita mendahulukan Al-Quran, Sunnah, kemudian ijtihad. Mendahulukan nalar (logic) dengan segala keterbatasannya hanya berujung jalan buntu. Wahyu menggariskan bahwa Islam menyelaraskan ajarannya sesuai dengan fitrah dan akal manusia.
    Sebagai agama fitrah, Islam tidak hanya menyatakan ajarannya rasional, tetapi juga sangat spiritual (intuitif). Tanpa wahyu dan ketulusan, nalar itu tidak lebih dari seonggok ego yang cendrung hedonis dan materialis dan  menjerumuskan manusia pada perilaku yang lebih sesat dari pada binatang (QS Al-Araf : 179). Mungkin krisis bangsa ini terus terjadi karena kita selalu segan, emoh, atau malu-malu mengakui Syariat Agama kita. Kita mengabaikan Al-Quran. Kita terjebak dalam kemunafikan massal. Kita terus menggali kesalahan yang sama. Kita terus mencari alternatif hukum berikut berbagai justifikasi nalar. Sementara itu, kebenaran petunjuk kita kesampingkan. Kita ingin benar, namun mengenyahkan kebenaran itu sendiri.   
    Dalam Islam, tindakan melarikan diri dari kebenaran dikenal dengan istilah berpaling. Maka melalui  surat Az-Zukhruf ayat : 36, Allah telah mengingatkan kita : Barang siapa yang berpaling dari Pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Quran), Kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan), maka syetan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Apabila kita tak ingin syetan selalu menyertai kita, maka sudah saatnya kita kembali memanfaatkan Al-Quran sebagai pedoman/petunjuk jalan hidup kita, dengan terlebih dahulu mencermati ayat-ayat yang terkait langsung dengan perintah penegakan syariat yang berkaitan dengan agama kita sebagaimana ayat-ayat berikut ini :
* Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka      janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu (Q.S. Al-Hajj : 67).
* Kemudian Kami jadikan kamu berada diatas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Q.S.  Al- Jatsiyah : 18)
* ”Al-Quran ini adalah pedoman bagi seluruh manusia, petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang meyakini(Q.S. Al-Jatsiyah : 20).
* “Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan -hukum) Al-Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ketempat kembali;.(Q.S Al-Qashash:85).
* ”Jika mereka berpaling (dari  yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa   sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka , disebabkan dosa-dosa mereka(Q.S Al-Maidah : 49).
     Musibah demi musibah yang melanda bangsa dan rakyat kita, baik musibah yang  secara alamiah maupun musibah yang  dari perbuatan manusia sendiri, nampaknya mengharuskan kita untuk merenungi dan mawas diri. Dimana letak kealpaan kita. Akui dengan jujur kesalahan kita, ketidaktahuan kita, kekeliruan kita, yakinkan bahwa diatas segalanya ada Allah swt Yang Maha Menguasai alam semesta raya ini. Apabila Dia mengatakan jadilah, maka jadilah ia.
    Pada saat penulis sedang merenungi masalah ini, tiba-tiba saja teringat akan kisah-kisah / contoh-contoh dari orang-orang terdahulu yang difirmankan Allah melalui ayat-ayat Nya yang termuat dalam surah Saba sebagai berikut :
- Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (Kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun disebelah kanan dan disebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan) makanlah olehmu dari rezeki yang (Dianugerahkan) Tuhan-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhan-mu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun (Q.S. Saba : 15).
- Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit pohon sidr (Q.S. Saba: 16). (dari catatan kaki Kitab Al-Quran dan terjemahannya, pohon Atsl adalah sejenis pohon cemara dan pohon Sidr adalah pohon bidara).
    Apakah ayat-ayat tersebut memang dimaksudkan Allah untuk mengingatkan umat berikutnya agar menjalani hidup berpribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa  sesuai dengan apa yang diinginkan dan diridhoi-Nya, termasuk bangsa dan negara kita ? Semoga kita tergolong bangsa yang Dikehendaki-Nya untuk selalu mendapat Petunjuk dan Keampunan-Nya. Amien! 
    Syari’at dalam Al-Qur’an bertujuan mengarahkan perjalanan kehidupan manusia menuju kemaslahatan yang sesuai dengan syari’at, membangun kehidupan masyarakat berlandaskan dasar yang paling lurus serta cara yang paling sesuai, juga berorientasi pada sisi yang paling selamat dan paling benar baik di dunia maupun di akhirat kelak.
    Dengan demikian, menjadi jelaslah bahwa Al-Qur’an bukan hanya milik umat Islam saja, tetapi juga sebagai undang-undang kehidupan bagi seluruh umat manusia di alam ini. Sebagaimana kesaksian dari Goerge Sarton seorang ilmuwan dan sejarawan besar Amerika Serikat dalam karyanya berjudul: ‘The Incubation of Western Cultuer in the Middle East’ menyatakan bahwa: “Ajaran Al-Qur’an meliputi seluruh aspek kehidupan, nilai-nilai religi, ilmu pengetahuan, aturan perundang-undangan, tata laksana kehidupan, bahasa, dan lain-lain. Intinya, tiada satu masalah kehidupan pun yang tidak tersolusikan dalam Al-Qur’an”, lanjutnya. Hal ini lantaran isinya yang bersifat kekal dan tetap, bernilai tinggi serta bersifat universal, karena Al-Qur’an adalah kalam wahyu ilahi yang akan tetap abadi hingga di hari akhir nanti.
     Al-Qur’an berada pada tingkatan tertinggi tidak hanya di kalangan orang mukmin dan pengikutnya saja. Ia tidak untuk mengharap berkah, atau sebagai bacaan bagi arwah jenazah, dan pada beberapa kesempatan yang berkaitan dengan ta’ziyah. Ia juga bukan hanya untuk bacaan sehari-hari untuk dihafal dan memberikan kesenangan semata. Tapi ia jauh lebih dari itu, ia berperan sebagai undang-undang beramal dan aplikasi, memperbaiki akidah serta ajaran mengenai akhlak dan tingkah laku. Oleh karenanya, Allah Swt mewajibkan hamba-Nya untuk mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an kemudian mengapli kasikan hukum-hukum dan ajaran yang terdapat di dalamnya secara menyeluruh, tidak hanya sebagian saja. Sebagaimana Allah Swt telah berfirman : “Kitaabun anzalnaahu ilaika mubaarakul li yaddabbaruu aayaatihii wa li yatazakkara ulul-albaab” (QS. Shad : 29) , yang artinya:   “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang memiliki akal pikiran”.  Wassalam...!!
    
                                                                    ==@==                          
 
 Oleh : Chairullah Idris
Email : Chairullah.idris@gmail.com