Selasa, 07 Januari 2014

Kembali kepada Al-Qur’an



Kembali kepada Al-Qur’an
    
    Semboyan Kembali kepada Al-Quran sudah banyak didengungkan orang, semua sepakat, itulah formula yang akan dapat mengangkat umat Islam dari ketertinggalannya, dan mengantarkan mereka kepada suatu kebangkitan kembali yang didambakan. Tapi, sudahkah umat Islam mengenal Kitab suci ini ? Atau sudah benarkah pengenalannya selama ini ? Tanpa pengenalan yang benar, semboyan itu tidak akan punya arti apa-apa dan tidak akan membawa kita kemana-mana.
    Al-Quran adalah wahyu dari Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantaraan Malaikat Jibril dan selanjutnya untuk diteruskan kepada seluruh umat manusia guna dijadikan petunjuk/pedoman dalam menempuh jalan kehidupan yang di-ridhoi Allah, yakni jalan yang lurus.
    Sebagai Kitab Allah, Al-Quran menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama dari seluruh ajaran Islam. Dan diawal kelahirannya, umat Islam sangat komitmen dengan Al-Quran. Mereka bukan hanya menjunjung tinggi kitab Ilahi ini, namun mereka mampu bersenyawa dan meng-aplikasikannya dalam keseharian. Dan, hasil yang dicapai sungguh sangat optimal, mereka sanggup mencapai suatu batasan yang agung di mata dunia dan dalam berbagai lapangan kehidupan.
    Namun, generasi pelanjutnya semakin kemari kian surut. Umat Islam sudah jauh dari Al-Quran. Al-Quran pun tinggal tulisan yang dihias warna-warni yang tak dipahami pesan-pesannya untuk membangun pranata hidup dan peradaban. Akibatnya, muncullah berbagai penyakit yang membuat keropos bangunan Islam. Mulai dari perpecahan, syubhat, khianat, ketidakadilan, ketidakjujuran, salah urus, kemiskinan, runtuhnya nilai etika dan estetika, beribadah salah kaprah, keterbelakangan dan penyakit kronis lainnya. Nasib umat Islam di berbagai belahan dunia sama; mereka dilecehkan…. dihinakan…. dinomorduakan... bahkan, ... diluluhlantakkan!         
     Lalu apa solusinya ? Tidak lain harus kembali kepada Al-Quran dan memahaminya secara integral, menyeluruh dan sistematis, sebagaimana telah difirmankan Allah Swt melalui 2 (dua) ayat-Nya masing-masing terjemahannya sbb:
* “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. (QS. An-Nahl : 44).
* Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang didalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya ? (Q.S. Anbiya : 10).
    
     Dari kedua ayat tersebut diatas, jelas bagi kita, bahwa telah diperintahkan kepada umat manusia untuk dapat memahami isi Al-Quran dengan cara memikirkan, mempelajari, serta menggali kandungan ayat-ayat Ilahi tersebut guna dijadikan pedoman dan petunjuk bagi siapa saja yang menghendaki kemuliaan. Dan sekaligus mengaplikasikannya dalam keseharian, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun bangsa yang mencakup segala aspek kehidupan manusia (ekonomi, politik, , seni, budaya, dan pendidikan).
    Namun disinilah letak persoalan yang kita hadapi, dimana Islam sebagai ‘Agama Masjid’ senantiasa survive. Kendati, dalam tatanan bermasyarakat dan berbangsa, Islam terus terombang-ambing, mengalami kemunduran dan terpojokkan. Di Republik ini, sejak awal masa kemerdekaan, oleh The founding father kita telah mulai dicanangkan, dimana Negara Republik Indonesia akan dijadikan negara modern, melalui upaya ‘sekularisasi dan pembaratan masyarakat Islam’. Hal ini sangat terinspirasi oleh rekan seperjuangannya Kemal At Tatturk yang baru saja memperoleh kemerdekaan Turki, dan juga telah berhasil menerapkan program modernisasi di Negaranya. Dan kenyataannya saat ini, masyarakat Indonesia sudah berhasil dengan sempurna memisahkan kehidupan beragama dari kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Dan yang lebih menakjubkan lagi, masyarakat Indonesia telah berhasil pula menjadi lebih Barat dari bangsa Barat-nya sendiri. Ironis memang, di  yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam dan memperoleh kemerdekaan melalui gema suara takbir, namun  spiritual tidak dijadikan bahan pertimbangan sebagai dasar pemikiran dalam pengelolaan suatu masyarakat bangsa. Apakah gerangan penyebab tertolaknya upaya tersebut ? Allahhu alam!  Namun paling tidak kami mencatat adanya beberapa  penyebab, baik dari intern umat Islam sendiri maupun dari fihak ekstern, antara lain:
- Dampak masa penjajahan     
      Snouck Hurgronje, yang merupakan peletak dasar kebijaksanaan  Belanda mengenai Islam di Indonesia telah berupaya agar Islam hanya menjadi Agama masjid, artinya agama sebagai ibadah kepada Tuhan semata. Akibatnya, kita hanya sujud kepada Allah Swt di masjid, tetapi diluar masjid kita menjadi pelaku maksiat yang ulung. Kebijaksanaan yang melatarbelakangi politik netral-agama itu diajukan karena Snouck Hurgronje melihat bahwa musuh pemerintah Hindia Belanda itu bukanlah Islam sebagai agama, melainkan Islam sebagai kekuatan atau doktrin politik.                                                                          
- Pengaruh aliran politik dalam Islam       
     Masalah-masalah politik dalam Islam pada mulanya berpangkal dari masalah  penentuan pengganti Nabi Muhammad Saw dalam urusan  dan agama. Dalam kaitan ini kemudian muncul beberapa aliran politik dalam Islam, yaitu khawarij, suni, dan syiah. Aliran khawarij dan syiah menolak pendapat yang mengatakan bahwa Islam tidak ada hubungannya dengan kehidupan bernegara. Keduanya berpendirian bahwa Islam mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk kehidupan bernegara. Sementara aliran suni berpendirian bahwa Islam tidak ada hubungannya dengan . Nabi Muhammad Saw, sebagaimana rasul-rasul sebelumnya, hanya berfungsi sebagai rasul, tidak sebagai kepala . Penduduk muslim Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, dan pada umumnya mereka penganut Ahlusunah waljamaah (suni), bermazhab terutama Mazhab Syafii.
- Pengaruh Pendidikan barat
     Para Intelektual Muslim yang telah terkontaminasi oleh adigium yang mengatakan: Berikan apa yang menjadi milik Kaisar kepada Kaisar dan apa yang menjadi milik Tuhan kepada Tuhan. Sedangkan, filsafat Islam menegaskan bahwa Kaisar dan apa yang menjadi miliknya adalah milik Allah Swt. Dan apa yang ada di muka bumi dan alam jagat raya ini merupakan milik-Nya jua. Islam adalah agama universal yang mengatur segala sendi kehidupan manusia, yang mencakup akidah, ibadah, dan syariah serta menetapkan prinsip-prinsip dasar yang menghasilkan syariah-syariah yang mengatur kehidupan individu, keluarga, kondisi dan situasi  masyarakat, dan relasi-relasi alam secara konstruktif.
- Propaganda Sekularisme
     Dalam memposisikan agama ke dalam filsafat politik sekuler, ada perbedaan pendapat, diantaranya ada model sekuler Barat liberal yang menempatkan agama bukan sebagai sesuatu yang tabu, tetapi juga bukan  mendasar terhadap kebijakan . Urusan  dijalankan secara terpisah dari pertimbangan agama. Di Inggris misalnya, Kristen Anglikan menjadi agama  dan raja atau ratu dianggap sebagai kepala Gereja Anglikan. Meski demikian, agama tidak berperan dalam urusan . Di -negara Barat lain, kurang lebih mengambil sikap yang sama. Negara tetap independen dari gereja, dan  merupakan dua domain yang sama sekali berbeda dan tidak saling mencampuri. Sampai batas tertentu, model Barat ini lebih dekat dengan filsafat politik sekuler. Dengan propaganda inilah masyarakat Indonesia cenderung mengikuti perkembangan segala sesuatu yang berasal dari Barat, termasuk perkembangan kehidupan beragama.
     Dari -unsur tersebut diataslah, sejak berdirinya Republik ini kehidupan bermasyarakat dan berbangsa kita sudah mulai terpisah dari kehidupan beragama. Semakin jauh kita mengayuh biduk kenegaraan, semakin jauh pula tertinggalnya kehidupan keagamaan kita. Sehingga apapun yang kita perbuat, hasil yang kita peroleh adalah jauh dari apa yang kita harapkan, langkah apapun yang diambil akan menimbulkan huru-hara, saling curiga, saling tuduh, saling fitnah, saling hujat, bahkan saling bunuh dan pada akhirnya bermuara pada kerusuhan / kehancuran. Kisah umat-umat terdahulu yang dipaparkan Al-Quran seharusnya dapat diambil contoh. Kaum Saba, Tsamud, Ad, Kanan, Bani Israil dan Abu Jahal, termasuk serangkaian sosok sejarah yang menjadi bukti secara alamiah bahwa mengingkari kebenaran akan berakhir dengan keterpurukan. Allah telah menegaskan : Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka termasuk orang-orang kafir, zalim dan fasik (QS Al-Maidah: 44,45, dan 47). Menurut ayat tersebut, orang yang enggan berhukum menurut  Allah disebabkan oleh tiga hal ; karena tidak percaya (kufur), berdasarkan hawa nafsu dan nalar (logic) yang justru menganiaya / membohongi diri sendiri (zalim), dan mempercayai kebenaran sebatas lip-service dan retorika belaka (fasik).
    Para pakar tafsir menyebutkan bahwa yang diturunkan Allah itu ada tiga : Al-Quran, Sunnah, dan akal. Dua yang pertama wahyu, dan yang terakhir fitrah. Hadis Muadz bin Jabal yang terkenal itu mengisaratkan agar kita mendahulukan Al-Quran, Sunnah, kemudian ijtihad. Mendahulukan nalar (logic) dengan segala keterbatasannya hanya berujung jalan buntu. Wahyu menggariskan bahwa Islam menyelaraskan ajarannya sesuai dengan fitrah dan akal manusia.
    Sebagai agama fitrah, Islam tidak hanya menyatakan ajarannya rasional, tetapi juga sangat spiritual (intuitif). Tanpa wahyu dan ketulusan, nalar itu tidak lebih dari seonggok ego yang cendrung hedonis dan materialis dan  menjerumuskan manusia pada perilaku yang lebih sesat dari pada binatang (QS Al-Araf : 179). Mungkin krisis bangsa ini terus terjadi karena kita selalu segan, emoh, atau malu-malu mengakui Syariat Agama kita. Kita mengabaikan Al-Quran. Kita terjebak dalam kemunafikan massal. Kita terus menggali kesalahan yang sama. Kita terus mencari alternatif hukum berikut berbagai justifikasi nalar. Sementara itu, kebenaran petunjuk kita kesampingkan. Kita ingin benar, namun mengenyahkan kebenaran itu sendiri.   
    Dalam Islam, tindakan melarikan diri dari kebenaran dikenal dengan istilah berpaling. Maka melalui  surat Az-Zukhruf ayat : 36, Allah telah mengingatkan kita : Barang siapa yang berpaling dari Pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Quran), Kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan), maka syetan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Apabila kita tak ingin syetan selalu menyertai kita, maka sudah saatnya kita kembali memanfaatkan Al-Quran sebagai pedoman/petunjuk jalan hidup kita, dengan terlebih dahulu mencermati ayat-ayat yang terkait langsung dengan perintah penegakan syariat yang berkaitan dengan agama kita sebagaimana ayat-ayat berikut ini :
* Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka      janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu (Q.S. Al-Hajj : 67).
* Kemudian Kami jadikan kamu berada diatas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Q.S.  Al- Jatsiyah : 18)
* ”Al-Quran ini adalah pedoman bagi seluruh manusia, petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang meyakini(Q.S. Al-Jatsiyah : 20).
* “Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan -hukum) Al-Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ketempat kembali;.(Q.S Al-Qashash:85).
* ”Jika mereka berpaling (dari  yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa   sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka , disebabkan dosa-dosa mereka(Q.S Al-Maidah : 49).
     Musibah demi musibah yang melanda bangsa dan rakyat kita, baik musibah yang  secara alamiah maupun musibah yang  dari perbuatan manusia sendiri, nampaknya mengharuskan kita untuk merenungi dan mawas diri. Dimana letak kealpaan kita. Akui dengan jujur kesalahan kita, ketidaktahuan kita, kekeliruan kita, yakinkan bahwa diatas segalanya ada Allah swt Yang Maha Menguasai alam semesta raya ini. Apabila Dia mengatakan jadilah, maka jadilah ia.
    Pada saat penulis sedang merenungi masalah ini, tiba-tiba saja teringat akan kisah-kisah / contoh-contoh dari orang-orang terdahulu yang difirmankan Allah melalui ayat-ayat Nya yang termuat dalam surah Saba sebagai berikut :
- Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (Kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun disebelah kanan dan disebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan) makanlah olehmu dari rezeki yang (Dianugerahkan) Tuhan-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhan-mu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun (Q.S. Saba : 15).
- Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit pohon sidr (Q.S. Saba: 16). (dari catatan kaki Kitab Al-Quran dan terjemahannya, pohon Atsl adalah sejenis pohon cemara dan pohon Sidr adalah pohon bidara).
    Apakah ayat-ayat tersebut memang dimaksudkan Allah untuk mengingatkan umat berikutnya agar menjalani hidup berpribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa  sesuai dengan apa yang diinginkan dan diridhoi-Nya, termasuk bangsa dan negara kita ? Semoga kita tergolong bangsa yang Dikehendaki-Nya untuk selalu mendapat Petunjuk dan Keampunan-Nya. Amien! 
    Syari’at dalam Al-Qur’an bertujuan mengarahkan perjalanan kehidupan manusia menuju kemaslahatan yang sesuai dengan syari’at, membangun kehidupan masyarakat berlandaskan dasar yang paling lurus serta cara yang paling sesuai, juga berorientasi pada sisi yang paling selamat dan paling benar baik di dunia maupun di akhirat kelak.
    Dengan demikian, menjadi jelaslah bahwa Al-Qur’an bukan hanya milik umat Islam saja, tetapi juga sebagai undang-undang kehidupan bagi seluruh umat manusia di alam ini. Sebagaimana kesaksian dari Goerge Sarton seorang ilmuwan dan sejarawan besar Amerika Serikat dalam karyanya berjudul: ‘The Incubation of Western Cultuer in the Middle East’ menyatakan bahwa: “Ajaran Al-Qur’an meliputi seluruh aspek kehidupan, nilai-nilai religi, ilmu pengetahuan, aturan perundang-undangan, tata laksana kehidupan, bahasa, dan lain-lain. Intinya, tiada satu masalah kehidupan pun yang tidak tersolusikan dalam Al-Qur’an”, lanjutnya. Hal ini lantaran isinya yang bersifat kekal dan tetap, bernilai tinggi serta bersifat universal, karena Al-Qur’an adalah kalam wahyu ilahi yang akan tetap abadi hingga di hari akhir nanti.
     Al-Qur’an berada pada tingkatan tertinggi tidak hanya di kalangan orang mukmin dan pengikutnya saja. Ia tidak untuk mengharap berkah, atau sebagai bacaan bagi arwah jenazah, dan pada beberapa kesempatan yang berkaitan dengan ta’ziyah. Ia juga bukan hanya untuk bacaan sehari-hari untuk dihafal dan memberikan kesenangan semata. Tapi ia jauh lebih dari itu, ia berperan sebagai undang-undang beramal dan aplikasi, memperbaiki akidah serta ajaran mengenai akhlak dan tingkah laku. Oleh karenanya, Allah Swt mewajibkan hamba-Nya untuk mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an kemudian mengapli kasikan hukum-hukum dan ajaran yang terdapat di dalamnya secara menyeluruh, tidak hanya sebagian saja. Sebagaimana Allah Swt telah berfirman : “Kitaabun anzalnaahu ilaika mubaarakul li yaddabbaruu aayaatihii wa li yatazakkara ulul-albaab” (QS. Shad : 29) , yang artinya:   “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang memiliki akal pikiran”.  Wassalam...!!
    
                                                                    ==@==                          
 
 Oleh : Chairullah Idris
Email : Chairullah.idris@gmail.com















Senin, 07 Oktober 2013

ISLAM AGAMA PERTENGAHAN ...... Muslim, Ummatan Wasathan !



ISLAM  AGAMA PERTENGAHAN ......
           Muslim, Ummatan Wasathan !        
      
    Salah satu dari tiga poin resume “Deklarasi Jakarta” yang merupakan hasil dari Konferensi ‘Summit Of Word Muslim Leaders’, adalah: Islam menolak segala bentuk kekerasan, mencintai perdamaian dan keadilan, dan mengajarkan nilai-nilai keutamaan, yakni menghormati kehidupan dan martabat manusia. Deklarasi itu agaknya ingin menunjukkan, bahwa Islam adalah Agama moderat (pertengahan) yang cinta damai, anti kekerasan, dan tidak anti kemajuan.
        Benar, bahwa Islam sangat menekankan prinsip keseimbangan. Ketika ide pertengahan diterapkan kepada manusia, maka ia memiliki konotasi keseimbangan, equilibrium dan keadilan. Konsekuensinya, identitas peradaban Islam dicirikan dengan perimbangan, equilibrium dan keadilan. Bahkan dengan itu pula Allah tegakkan pilar langit, sebagaimana firmanNya:  “...dan langit, Dia telah meninggikannya dan Dia letakkan neraca (keadilan). Agar supaya engkau tidak melampaui batas neraca itu.” (QS.Ar-Rahmaan:7-8).
        Sebagai  agama pertengahan, Islam tidak mematikan akal ataupun menuhankannya. Batas antara akal yang benar dan yang tidak adalah wahyu. Wahyu ibarat bingkai yang mengemas akal agar tidak jatuh ke salah satu titik ekstrim. Dengan keadialan ini Islam telah mengukir sejarah emas di pentas sejarah.
       Sejarah Yunani menjadi tonggak sejarah terpenting praktik penuhanan rasio. Para filsuf Yunani mencoba menjawab semua kegelisahan manusia dengan rasio. Mereka berfikir dan menurunkan teori-teori tentang teologi, rasa, sains, logika, alam, materi, jiwa, kesehatan, seni, etika, politik, hukum, dan sebagainya. Walau begitu, wajib di catat, budaya Yunani tidak otomatis bebas dari konsep dewa-dewi dan ritus-ritus yang dibuat-buat.
        Para pakar Islam di masa awal memang merupakan penerus ilmuwan Yunani, tetapi mereka mengisinya dengan ruh keislaman dan dari itu mereka ciptakan penemuan-penemuan baru yang orang mau tak mau mengakuinya sebagai ‘produk’ Islami karya pakar Muslim. Dan orang-orang barat tidak dapat mengklaim begitu saja bahwa mereka meneruskan kegiatan keilmuan mereka dengan menyedot ilmu orang-orang Yunani secara langsung. Mereka harus mengakui peranan pakar Islam sebagai pengembang dan pencipta.
        Pakar-pakar Muslim masa awal mampu mencapai keberhasilan karena pertama sekali mereka menghayati keislaman mereka dengan sebaik-baiknya. Al-Qur’an dan sunnah Rasul, mereka jadikan pangkal gerak hidup mereka sepenuhnya. Dengan begitu maka kiprah mereka akan sepenuhnya Islami.
       Adalah merupakan fakta yang tidak bisa dibantah bahwa Barat telah belajar banyak hal tentang agama-agama Timur melalui Islam. Islam berperan sebagai jembatan peradaban antara Barat dan Timur serta Utara dan Selatan. Kehadiran Islam adalah untuk meluruskan dan menyempurnakan agama-agama para nabi sebelumnya yang telah berubah. Menjadi perekat antara pemeluk agama yang telah menjadikan “kehidupan dunia” bagai segala-galanya, tidak mempercayai lagi hari akhir serta menjadikan materi diatas segala-galanya, sedangkan pemeluk agama lainnya, telah menjadikan para pemeluknya sebagai rahib-rahib, dan tidak lagi memperdulikan kehidupan duniawi.           
       Hal ini juga merupakan satu kesaksian dari  komunitas Barat,  sebagaimana yang disampaikan oleh David de Santillana (1845-1931) seorang orientalis berdarah Italia melalui  salah satu karyanya berjudul ‘ Hukum dan Masyarakat’, dalam satu bab menyatakan : “Ajaran Islam  meluruskan kitab-kitab suci Tuhan masa lalu yang telah tereduksi dari jalur kebenaranNya. Bahkan lanjutnya, ajaran Al-Qur’an menuntun kembali kepada kepercayaan murni dan luhur, sebagaimana yang diajarkan para Nabi dan para kekasih Tuhan pada masa lalu (Nuh dan Ibrahim) yang dijauhi dan direduksi kaum Nasrani dan Yahudi. Ayat-ayat Al-Qur’an juga meluruskan semua paham salah yang mereka sebarkan serta mengembalikannya kepada kemurnian ajaran, sebagaimana yang telah disampaikan Nuh dan Ibrahim pada masa lalu.  Lebih lanjut beliau menggaris bawahi bahwa : Ayat-ayat Al-Qur’an juga mengoreksi dan meluruskan paham salah yang ditebar para pendeta Yahudi dan Nasrani yang telah mereduksi kitab suci yang diajarkan Musa dan Isa serta mengembalikannya kepada kemurnian ajaran yang disampaikan Musa dan Isa”.
        Agama Islam datang menjadi penengah antara keduanya, tidak membenarkan orang hidup serba menahan diri, juga tidak membenarkan ‘ibahiyah’ atau hidup serba boleh; Dan juga tidak meninggalkan akhirat serta tidak mengabaikan duniawi, sebagaimana firman Allah berikut ini:  “Atas apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, carilah kebaha- giaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS.Al-Qashash:77). Islam datang menyapa manusia melalui akal yakni penggunaan rasio dan intuisi secara bersamaan. Dan dengan ke-universalannya; Dia mengatur segala sendi kehidupan manusia.  Islam juga merupakan agama yang bersumber dari Tuhan, dan berorientasi pada manusia. Dan sebagai agama yang hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil’alamin) serta untuk kedamaian, umat manusia merasa ‘ditantang’ untuk mampu merespons persoalan kemanusiaan yang tengah menjadi harapan besar umat manusia pada masa kini.
        Adalah takdir Islam untuk menjadi “bangsa tengah” bukan hanya dalam pengertian geografis, tetapi juga dalam pengertian teologi, budaya dan peradaban. Dan sisi makna literalnya, kata  “wasathan”  mengacu kepada lokasi geografis dunia Muslim yang berada di pertengahan, antara Cina, Korea, dan Jepang pada sisi timur dan Eropa pada sisi barat; antara Rusia di bagian utara dan sub-sahara Afrika dan Australia di bagian selatan. Yang dimaksud dengan “Dunia Muslim” adalah bagian bumi yang mayoritas ditempati oleh masyarakat pemeluk agama Islam, yang terbentang dari Maroko di ujung barat hingga Merauke (Indonesia) di ujung timur, Rusia di bagian utara hingga Comoro di lautan India di bagian selatan. Singkat kata, secara geografis, dunia Muslim merupakan jembatan antara Timur dan Barat. Juga antara Utara dan Selatan.
       Gagasan Islam sebagai “bangsa tengah” bukan merupakan pemikiran yang muncul belakangan atau penemuan belakangan yang muncul setelah Islam menjadi suatu kerajaan, suatu agama dunia, dan peradaban dunia. Gagasan ini bisa ditemukan dalam kitab suci Islam sendiri, yaitu Al-Qur’an. Ketika Al-Qur’an masih diwahyukan secara parsial di Makkah, ketika pula komunitas dan negara Muslim pertama di Madinah belum berdiri, Allah telah menggambarkan keimanan baru, dan para pengikutnya disebut sebagai “ummatan wasathan”, yang berarti ‘bangsa atau komunitas tengah’ atau orang-orang yang mengambil jalan tengah.

Umat pertengahan (Ummatan Wasathan)
        “Wa kazaalika ja’alnaakum ummataw wasatal li takuunuu syuhadaa ’a’alan naasi;....” yang artinya: “ Demikian Kami jadikan kamu umat pertengahan, supaya kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia” (QS.Al-Baqarah: 143).  Menurut Yusuf Qardhawi, umat pertengahan adalah kelompok manusia yang senantiasa bersikap moderat atau mengambil jalan tengah, bersikap adil dan lurus, yang akan menjadi saksi atas setiap kecenderungan manusia, ke kanan atau ke kiri, dari garis tengah yang lurus.
      Mengambil jalan tengah dapat dimaknai pula selalu bersikap proporsional (I’tidal), tidak berlebih-lebihan (israf). Tidak melampaui batas (ghuluw), tidak sok pintar atau sok konsekuen dan juga tidak bertele-tele (tanathu), serta tidak mempersulit diri (tasydid). Sebagai umat pertengahan, umat Islam tidak melakukan hal-hal ekstrim seperti fanatik terhadap suatu pendapat dan tidak mengakui pendapat-pendapat lain, mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan Allah, memperberat yang tidak pada tempatnya, sikap kasar dan keras dalam berdakwah, berburuk sangka atau memandang orang lain dengan ’kacamata hitam’.
        Dengan demikian, sebagai umat pertengahan umat tidak berlebih-lebihan atau melampaui batas dalam segala hal, termasuk ibadah ritual (misalnya sampai meninggalkan kehidupan duniawi) serta dalam peperangan sekalipun (QS.Al-Baqarah: 190). Tidak membesar-besarkan masalah kecil, mendahulukan yang lebih penting ketimbang yang kurang penting, berbicara seperlunya serta tidak terlalu panjang membaca ayat-ayat dalam mengimami shalat berjamaah.
         Rasulullah Saw bersabda, “Hindarkanlah darimu sikap melampaui batas dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu telah binasa karenanya “ (HR Ahmad, Nasa‘I, Ibnu Majah, dan Al-Hakim dari Abdullah Bin Abbas).  Meneladani golongan yang selamat adalah golongan Rasulullah Saw, karena Rasulullah Saw telah bersabda: “Golongan yang selamat dariNya hanya satu; para sahabat bertanya : Wahai Rasulullah siapakah mereka? Nabi Saw bersabda ”Ahlus sunnah wal jama’ah” Sahabat bertanya kembali siapakah golongan tersebut ?  Nabi bersabda : ” Apa yang aku dan para sahabatku tempuh” (HR. Tirmidzi). Mereka tidak pernah mengambil dunia untuk dunia tetapi untuk agama. Mereka tidak pernah meninggalkan dan menghindari dunia secara total. Mereka tidak pernah terjebak ke dalam tafrith  (berlebih-lebihan) ataupun ifrath (sangat kurang) dalam sesuatu. Tetapi mereka senantiasa seimbang yaitu adil dan pertengahan antara dua sisi yang merupakan perkara paling dicintai Allah.
        Bila kita meyakini akan hadis tersebut diatas, kiranya sudah sepatutnya kita kembali meneladani apa yang Rasul beserta para sahabatnya laksanakan. Periode Rasulullah Saw, yakni suatu masa ketika Rasul masih hidup, pastilah ajaran Islam dilaksanakan secara baik dan benar, tepat benar dengan petunjuk Al-Qur’an dan Al-Sunnah dan tidak menyimpang sedikitpun. Khususnya oleh pribadi Rasul Saw sebagai suri-teladan yang terbimbing langsung melalui bimbingan Ilahiah. Juga oleh para sahabat yang terbimbing dan terkontrol langsung oleh Rasulullah Saw.
       Amaliah Rasulullah Saw, mustahil jika sampai menyimpang dari petunjuk Al-Qur’an. Karena amaliah inilah yang bakal di teladani oleh para sahabat dan umat berikutnya. Namun priode berikutnya, Islam seakan-akan telah berhenti sebagai kekuatan pemersatu umat dan bahkan merana dan menjadi tawanan di tangan pemeluknya. Inilah di antara tragedi yang memilukan yang masih berlangsung di depan pelupuk mata kita semua. Apa yang diingatkan Rasul berabad-abad yang lalu kembali kita rasakan benar sekarang ini; Berkata Rasul : ” Ya Tuhan-ku, sesungguhnya kaumku telah mengabaikan Al-Qur’an ini ” .
         Pertanyaannya adalah : Apakah kotak-kotak sunni, syi’i, khawarij, dan sub-sub yang lahir dari rahim mereka yang telah banyak menumpahkan darah sesama Muslim dalam bilangan abad sampai hari ini, adalah sesuatu yang sah dilihat dalam perspektif Al-Qur’an? Bukankah semuanya adalah buatan sejarah yang tidak boleh ‘diberhalakan’, sebab di masa Rasul kotak-kotak itu tidak pernah muncul ! Hal ini tentunya karena di masa itu Rasul dan para sahabatnya, masih berpegang teguh terhadap firman Allah berikut ini : “...dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar-Rum : 31-32).
        Semua orang kiranya sepakat bahwa Islam mengajarkan kebajikan, perdamaian, kerukunan, persamaan, dan keadilan. Kekerasan (kecuali dalam hal perang fisik dan mempertahankan aqidah), diskriminasi, adalah larangan Tuhan. Dalam hal teologi, Tuhan adalah satu, Nabi Muhammad adalah sebagai media antara manusia dan Tuhan, Rasul dan Al-Qur’an merupakan sumber Hukum, ajaran, dan moral, baik di ranah teologis maupun sosiologis. Kesemua itu merupakan titik temu diantara pemahaman kita yang berbeda-beda tentang Islam;  Sebagaimana juga pernah diungkap oleh Dr. Mahathir Mohamad pada suatu kesempatan di KTT OKI ke-10 di Malaysia sbb: “ Selama kurang lebih 1.400 tahun, pemahaman Islam, ajaran yang satu, tapi diartikan berbeda-beda oleh umat Islam sendiri”. Semoga di hari-hari mendatang, kita di persatukan kembali oleh Allah Swt dalam satu wadah “Ummatan wasathan”.  InsyaAllah...!!!

                                                                       ==@==