Rabu, 23 Januari 2013

Satu diantara PERINGATAN ALLAH Swt



Satu diantara    
Peringatan Allah Swt     
    
      Dari sekian banyak peringatan Allah kepada hamba-Nya, salah satu diantaranya adalah peringatan akan sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap Muslim yang disampaikan-Nya melalui surat Al-Baqarah ayat 120: “Wa lan tardaa ‘ankal-Yahuudu wa lan-Nasaaraa hattaa tattabi’a millatahum, qul inna hudallaahi huwal-hudaa, wa la’init-taba’ta ahwaa’ahum ba’dal-lazii jaa’akaminal-‘ilmi maa laka minallaahi miw waliyyiw wa laa nasiir”, yang artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti ‘ millah’ mereka. Katakanlah: sesungguh nya petunjuk Allah, itulah petunjuk yang benar; dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepada kamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.  
      Demikian pula sabda Rasulullah s.a.w: Kamu akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan bila mereka masuk ke dalam lubang biawak pun, akan mengikutinya. Aku bertanya: Apakah  mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani ? Rasul menjawab: Siapa lagi selain mereka (HR.Bukhari).   
     Memang dalam perjalanan sejarah, upaya yang tak henti-hentinya dengan berbagai cara dan methode terus digulirkan. Sejak terjadinya Revolusi Industri di Eropa, yang berlangsung secara luar biasa dan memberikan dampak sangat besar terhadap kekuatan negara-negara Eropa tersebut, kaum Muslimin terhenyak dan mengalami kebimbangan dalam menyikapi revolusi tersebut. Dalam keadaan bimbang dan bingung, dan seiring pula dengan perkembangan kapitalisme yang mendasarkan Teori  Evolusi dari Darwin dan Malthus yang menyatakan bahwa kelas-kelas dalam Masyarakat itu perlu ada; perlu ada perang, sehingga perlu ada yang menjajah dan yang dijajah, maka tak ayal lagi bertambah luaslah jangkauan penjajahan atas  blok timur (Islam) oleh  blok  barat. Lebih lanjut Malthus mengatakan  bahwa perkembangan populasi tidak seimbang dengan kebutuhan makan. Untuk mengembangkan dua hal tersebut, perlu ada perang; kelaparan dan bencana, dan kemudian terjadilah kekejaman dan kelaliman antara lain di Benggala yang diciptakan dalam bentuk bencana kelaparan yang cukup hebat.
     Di pihak lain, kehancuran Turki Utsmani, ditandai dengan naiknya boneka Yahudi Kemal Attaturk ke puncak kekuasaan pada tahun 1924. Kepemimpinan Attaturk menjadi lonceng kematian bagi lahirnya kembali payung umat Islam yang bernama khilafah untuk membela kepentingan dunia Islam. Kehancuran ini telah membuat dunia Islam kehilangan jati diri dan kekuasaan dimata dunia. Orang-orang Yahudi dengan bantuan organisasi Salibis Internasional dan negara-negara kolonialis  Barat terus-menerus menyebar permusuhan dan rasa kebencian terhadap umat Islam. Hingga saat ini, dalam usianya yang kurang lebih 1500 tahun, Islam masih tetap disalah-pahami oleh Dunia, terutama Barat, lebih dari agama-agama lainnya.
    Kesalah-pahaman yang menyebabkan tertanamnya kebencian itu telah ada sejak disinformasi tentang Islam dan kaum muslim oleh Paus Urbanus V, yang hingga saat ini masih membekas di benak orang-orang Nasrani. Hal tersebut dapat kita lihat dari pernyataan Perdana Menteri Italia Berlusconi di depan publik di Roma beberapa hari setelah peristiwa 11 September 2001 yang antara lain: Islam adalah ajaran yang kurang beradab dan kedudukannya di bawah agama Kristen yang telah mampu mendorong demokrasi dan kesejahteraan di dunia. Ditambahkannya, Peradaban Barat lebih superior, karena menjamin penghormatan pada hak-hak azazi manusia, hak politik, dan hak beragama. Barat harus yakin akan superioritas peradabannya. Barat harus mampu menaklukkan orang Islam seperti halnya mereka menaklukkan komunisme. Itu pula sebabnya mengapa ketika Turki modern mengajukan permohonan untuk masuk sebagai negara anggota Uni Eropa, kanselir Helmuth Kohl dari Jerman berujar, Kita tidak dapat membayangkan ada sebuah negara Islam menjadi anggota dalam suatu federasi Eropa, Eropa adalah Kristen, dan akan tetap menjadi Kristen.
      Demikianlah sekelumit ilustrasi, atas apa yang telah diperingatkan Allah swt maupun Rasulullah  terhadap umat Islam sejak sekian abad yang lalu. Namun apa gerangan yang membuat masyarakat Barat begitu geram dan cemas terhadap Islam dibandingkan dengan peradaban yang lain ?. Ada beberapa penyebabnya, antara lain :
Motif Dendam 
      Perang melawan bajak laut diabad ke 19 dan perang membasmi terorisme Internasional diabad ke 21, mempunyai latar-belakang berdasarkan keinginan balas-dendam dialam bawah sadar masyarakat Barat, yang mengalami trauma sebagai dampak dari kegagalan bangsa-bangsa Kristen Eropa dalam Perang Salib, serta ketakutan kepada ancaman kekuatan Islam yang pernah menghantui bangsa-bangsa Eropa untuk masa yang cukup lama.
Motif Ekonomi
      Menurut Paul Johnson, seorang sejarawan sayap-kanan Inggris, penaklukan kaum imperialis Barat terhadap negara-negara Islam pada abad ke 19 tidak ada kaitan dengan seruan pembasmian-perompakan di laut, tetapi merupakan pertarungan negara-negara kapitalis guna memperkuat posisi tawar mereka dalam persaingan global untuk meraih laba, pasar, dan sumber-sumber daya alam, sama halnya seperti perang membasmi terorisme dewasa ini, yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang serupa. Kalau dahulu motifnya adalah rempah-rempah dan emas, maka sekarang beralih ke minyak.
Motif Hegemoni     
      Pembasmian terorisme dan pencegahan akumulasi senjata-senjata pembunuh massal yang ada di tangan negara-negara yang tidak bertanggung jawab kini menjadi acuan dalam mendefinisikan kepentingan nasional Amerika. Ancaman If youre not with us, youre against us cukup membuat negara-negara lain (Muslim) ketakutan dengan akibat-akibat berupa sanksi ekonomi, politik, dan militer. 
     Ketiga motif tersebut diataslah yang lazim mereka sebut dengan semangat Gold, Glory, dan Gospel. Semangat inilah yang semakin menjadikan Barat ingin tetap menguasai dunia, khususnya Amerika yang telah mengklaim dirinya sebagai globo-cop (polisi dunia), yang mulai memobilisasi dukungan internasional dalam kampanye perang menumpas terorisme.
     Lalu bagaimana halnya dengan posisi umat Islam serta bagaimana menyikapi keadaan yang berkembang saat ini ?

POSISI UMAT ISLAM
     Setelah melampaui masa kejayaannya, hingga kini, belum ada generasi muslim yang mampu membangkitkan dan menata kembali puing-puing sejarah umat Islam. Islam memang menjadi salah satu agama yang mempunyai jumlah  penganut  terbesar  di dunia. Namun, jika dilihat posisi dan kondisi sosial ekonomi dan politik, nasib umat Islam masih sangat memperihatinkan. Di bidang ekonomi mereka mempunyai  income per capita  yang rendah, apalagi di bidang teknologi.
     United Nation Development Programme (UNDP) pada tahun 2001  menerbitkan suatu laporan tentang Technology Achievement Index. Dalam laporan tersebut, tidak ada satu negara pun yang berpenduduk mayoritas Muslim yang masuk kelompok pertama (leaders). Hanya Malaysia saja yang masuk dalam kelompok kedua (potential  leaders), selebihnya termasuk Indonesia masuk kelompok ketiga (dynamic adopters) dan kelompok  keempat  (marginalized). Negara-negara muslim, utamanya yang tergabung dalam Organisasi Konprensi Islam (OKI), hampir tidak mempunyai bargaining position(posisi tawar) yang kuat dan memadai menghadapi kekuatan hegemoni Barat (AS) dan Zionis. Posisi umat Islam sebagaimana yang digambarkan Nabi saw, bagaikan buih di lautan.
     Pertanyaannya, mengapa semua ini bisa terjadi ?. Semua ini berawal dari tidak bersenyawanya umat Islam dengan Islam yang menjadi keyakinannya. Allah, dalam surat Ali Imran: 28, telah memperingatkan , Janganlah orang-orang  mukmin  mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Namun, justru kaum Muslimin saat ini mengambil ajaran dan ideologi orang kafir sebagai pedoman hidupnya, mengais-ngais harta pinjaman darinya, bahkan menyerahkan segala urusan kaum Muslimin pada mereka. Padahal Allah telah mempe-ringatkan pula dalam lanjutan ayat yang sama, Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.     

BAGAIMANA SIKAP KITA ?              
       Memang harus kita akui, dan sebenarnya tidak bisa dihindari adanya kebutuhan akan pembaruan pemikiran dalam dunia Islam, terlebih lagi dalam era globalisasi. Tapi pembaruan tidak boleh dilakukan dengan memaksakan unsur luar terhadap Islam, melainkan harus muncul dari dalam diri Islam itu  sendiri. Langkah apa yang harus diambil oleh dunia Islam dan umat Islam dalam menghadapi ancaman global hegemony yang terkemas dalam suatu grand strategy? Tidak lain; pertama, komitmen kaum muslimin untuk berpegang teguh pada agama yang mereka anut, sebagaimana telah diperingatkan Allah melalui surat Az-Zukhruf ayat 43, dan sejalan dengan itu melalui lanjutan surat Al-Baqarah ayat 120 sebagaimana tersebut diatas , Allah telah mengingatkan kita “ qul inna hudaa Allaahi huwa al-huda” yang artinya: ‘Katakanlah : sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar.  Petunjuk Allah tidak lain adalah Kitabullah. Untuk itu marilah kita kembali kepada Al-Quran dan menjadikannya sebagai pedoman / petunjuk jalan hidup kita, baik dalam tataran keluarga; bermasyarakat; maupun berbangsa. Bila kita mengabaikannya, maka dalam lanjutan ayat yang sama, Allah telah berjanji: Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi Pelindung dan Penolong bagimu”. Kedua, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah. Satu dan lain karena kekuatan umat terletak pada kekuatannya sebagai jamaah baik pada lingkup nasional maupun global,secara vertikal maupun horizontal. Ukhuwwah Islamiyyah menuntut adanya mutual-trust(saling percaya atas dasar kesetiaan kepada amanah) antara komponen dan antar-komunitas Islam. Untuk itu upaya membangun ukhuwwah Islamiyyah menuntut hadirnya pemerintahan yang bersih, kuat dan berwibawa. InsyaAllah..!!
      Al-Quran adalah merupakan peringatan bagi umat manusia agar tetap berada pada jalan yang diridhoi-Nya. Dikatakan peringatan, karena hal-hal yang terdapat dalam kandungan al-Quran, sebenarnya bagi orang-orang yang telah mengetahui, kiranya masih perlu selalu diingatkan secara berulang-ulang akan hal-hal yang sebenarnya telah diketahui. Satu dan lain, karena bagi orang yang sudah mengetahui dan bila kemudian menolak atau mengingkari, maka yang bersangkutan termasuk orang yang kafir (QS. Ali-Imran : 100).    Wassalaam....!!!

                          
                                                                               ==@==
        
Oleh : Chairullah Idris | 18/12/2012 
  











           
                       
           

Jumat, 21 Desember 2012

MEMPERTEGUH IMAN TERHADAP AL-QUR'AN


   


Allah menganugerahkan Al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi Al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah) ” (QS.Al-Baqarah:269).
    
       Mengungkap makna, kandungan, dan hikmah Al-Qur’an, sungguh merupakan suatu pekerjaan yang tidak mudah. Menyampaikan “pesan Allah” yang merupakan Dzat Yang Tak Terbatas ke dalam pemahaman manusia yang terbatas ini, tidak saja memerlukan suatu kearifan, ilmu, ketulusan hati, dan kebersihan jiwa, tetapi lebih dari itu, menuntut adanya ‘kedekatan’ jiwa antara mahluk dengan Khaliq-Nya. Meski begitu, tidak berarti bahwa upaya tersebut harus terhenti. Terbukti, bahwa sejak dulu hingga sekarang, upaya penafsiran Al-Qur’an masih terus berlangsung. 
       Telah berabad-abad lamanya, AlQur’an ditafsir ditengah peradaban dan pergaulan umat manusia. Selama sejarahnya yang panjang itu ia telah berperan sebagai unsur utama pembentukan kepribadian ajaran Islam. Al-Qur’an berkedudukan sebagai Kitab Suci, yang merupakan sumber utama rujukan segala hal yang bersangkut-paut dengan kepercayaan, peribadatan, pedoman moral dan perilaku individual, sosial masyarakat, kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidaklah berlebihan kiranya bila kita simak kesaksian dari seorang ilmuwan dan sejarawan besar Amerika, George Sarton (1884-1956) mengenai Al-Qur’an, sebagaimana tertulis dalam karyanya ' The Incubation of Western Cultuer in the Middle East' antara lain menyebutkan : " Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan secara langsung kepada nabi agama ini (Muhammad). Ajaran Al-Qur’an meliputi seluruh aspek kehidupan, nilai-nilai religi, ilmu pengetahuan, aturan perundang-undangan, tata laksana kehidupan, bahasa, dan lain-lain. Intinya menurut beliau, tiada satupun masalah kehidupan yang tidak tersolusikan dalam Al-Qur’an ". Jadi, jika kita hendak mengetahui wajah, watak dan hakikat ajaran Islam yang asli, maka kita harus menatap kepada Kitab Suci ini, menyimaknya secara mendalam, menghikmatinya serta mengamalkannya dalam keseharian kita.
       Dalam eskatologi Islam terdapat prediksi, atau lebih tepatnya, janji Tuhan, bahwa Dia akan memperlihatkan kepada manusia tanda-tanda atau ayat-ayatNya yang ada pada seluruh horizon dan dalam diri manusia sendiri, sehingga akan jelas bagi manusia bahwa “Dia” adalah benar. Umat Islam harus yakin bahwa Al-Qur’an adalah wahyu terakhir dari Allah swt, dan dengan sendirinya, ia menegaskan dimensi universal. Tanggung jawab mereka di hadapan Allah adalah menjadikan pesan amanah ini diketahui dan menjelaskan kandungannya sebanyak mungkin.
       Tiada iman sejati tanpa pemahaman; bagi seorang Muslim, pernyataan ini berarti keharusan memahami sumber ajaran (Al-Qur’an dan Sunnah sebagai penjelas) dan konteks tempat dia hidup. Sejarah umat manusia sebelumnya dan berbagai keteladanan, banyak diukir dalam Al-Qur’an. Tetapi dalam realita, manusia cenderung membuat jarak jauh dari Al-Qur’an; mengapa? Memang terdapat banyak kendala dan rintangan. Semua itu disebabkan karena tabir yang menghijabnya amat tebal dan belum ada upaya maksimal untuk menyingkapkannya, meskipun Allah telah memberikan jalan  untuk itu dengan firman Nya : “Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS.Al-Qamar:17,22,32,40). ”Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran” (QS.Az-Zumar:9). Jadi bagi orang-orang yang tidak menerima Al-Qur’an sebagai pelajaran, merekalah orang-orang yang enggan menggunakan akal. Dan bagi orang-orang tersebut, Allah telah menjanjikan akan menimpakan kemurkaannya” (QS.Yunus:100).
       Kiranya ayat-ayat tersebut diataslah yang memberikan landasan kuat bagi khalifah Umar bin Khattab r.a dalam memotivasi kaumnya agar menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dan sikap hidupnya sebagaimana tercermin dalam sebagian dari isi khotbah beliau sesaat setelah menerima penyerahan kota suci Jerusalem dari Patriarch Jerusalem Uskup Agung Sophronius, antara lain sbb: “Wahai Kaum Muslimin, aku menasehatkan kepada engkau sekalian untuk membaca Al-Qur’an. Upayakan untuk memahami dan merenungkan isinya. Reguklah isi ajaran Al-Qur’an itu. Kemudian amalkan apa yang diajarkan Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan sekedar ajaran teoritis, ia harus menjadi sikap hidup yang wajib diamalkan. Al-Qur’an tidak membawakan pesan-pesan ukhrawi belaka; ia terutama ditujukan untuk menuntun engkau sekalian dalam kehidupan di dunia ini”.       
       Tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur’an adalah Kitab Suci yang merupakan pegangan utama untuk seluruh insan.  Didalamnya tersurat dan tersirat berbagai pedoman, inspirasi, isyarat, dan basis utama ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu Al-Qur’an memberikan penghargaan kepada orang-orang yang menggunakan akal untuk merenungi ayat-ayat Allah. Al-Qur’an senantiasa memadukan antara potensi qalbu dan akal. Qalbu (instrumen persepsi ma’rifat) berfungi memahami, menghayati dan merasakan keagungan dan kekuasan Allah;  sedangkan akal berfungsi memikirkan, merenungi, dan menganalisis ayat-ayat Allah yang ada di alam ini. Maka ayat-ayat Allah pada dasarnya tidak terbatas pada teks Al-Qur’an semata, tetapi juga terdapat di jagat raya.
       Betapa banyak ayat Al-Qur’an yang memotivasi umat Islam untuk selalu menggunakan akal pikiran dan penalaran. Al-Qur’an mengajak manusia untuk menyelidiki dirinya sendiri dan mendorong umat manusia untuk memperhatikan alam hewani dan nabati; dari yang paling kecil seperti nyamuk sampai kepada yang paling besar semisal gajah. Begitu pula Al-Qur’an memotivasi manusia untuk melakukan tadabbur (perenungan atau penyelidikan) terhadap segala kejadian yang menyangkut perjalanan masa, perputaran matahari, peredaran berbagai planet, bulan dan seluruh kosmos kita ini dengan segala isinya.
       Al-Qur’an sedemikian menghormati kedudukan ilmu dengan penghormatan yang tidak ditemukan bandingannya dalam kitab-kitab suci yang lain. Sebagai bukti, Al-Qur’an menyifati masa Arab pra-Islam dengan jahiliah (kebodohan).  Di dalam Al-Qur’an terdapat cukup banyak ayat yang menyebut tentang ilmu pengetahuan. Di dalam sebagian besar ayat itu disebutkan kemuliaan dan ketinggian derajat ilmu, bahkan bagi orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan, Islam memposisikannya pada tingkatan ketiga setelah Allah dan malaikat-Nya dalam rangka meminta petunjuk kepada Allah dan mengakui kebera- daan dan keesaan-Nya (lihat QS.Ali-Imran :18).
       Tak dapat disangkal, bahwa kelahiran Islam adalah untuk merombak peraturan-peraturan jahiliah, membenarkan keyakinan beragama umat yang lain, mengatur urusan-urusan kehidupan, menggunakan akal dalam hal yang baik dan meninggalkan yang buruk. Kemudian membangun kebesaran umat, memposisikannya dalam keagungan dan kemuliaan. Hal ini bukan sekedar klaim dari kita umat Islam, namun lebih dari itu seorang orientalis berdarah Italia, David de Santillana (1845-1931) dalam karyanya 'Al Qanun wal Mujtama' antara lain menyebutkan : "Ajaran Islam datang meluruskan kitab-kitab suci Tuhan masa lalu yang telah tereduksi dari jalur kebenaran-Nya. Ayat-ayat Al-Qur'an, juga mengoreksi dan meluruskan paham salah yang ditebar para pendeta Yahudi dan Nasrani yang telah mereduksi kitab suci yang diajarkan Musa dan Isa. Dengan demikian lanjutnya, ajaran agama ini meluruskan tabiat manusia kepada jalur yang benar selaras dengan kemuliaan manusia serta memberi solusi segala masalah yang dihadapi umat manusia".
        Menjadi jelas, perbedaan penghormatan ilmu dan pikiran diantara orang-orang muslim dan orang-orang Eropa (Barat) pada abad pertengahan. Orang-orang muslim telah menjadi  guru-guru di seluruh penjuru dunia dengan keutamaan Al-Qur’an, sedang selain mereka tenggelam dalam kebodohan. 

Tingkat pemahaman Al-Qur’an
      Al-Qur’an itu termasuk kitab / buku yang ‘tak pernah tamat’ dibaca. Itu artinya kitab yang harus terus-menerus dibaca ulang, dipilih-pilih lagi, diingat-ingat lagi. Mengapa demikian, karena ternyata tingkat pemahaman yang terkadung di dalamnya bisa berlapis-lapis. Meskipun Al-Qur’an al Karim diturunkan dalam bahasa arab, dan oleh karenanya pada umumnya orang-orang Arab dapat mengerti dan memahaminya dengan mudah, namun diantara para sahabat Rasul sendiri, mempunyai tingkatan yang berbeda-beda dalam memahami Al-Qur’an. Hal ini tentunya di sebabkan antara lain karena perbedaan tingkat pengetahuan serta kecerdasan para sahabat itu sendiri, disamping ada sahabat yang kerab mendampingi nabi Muhammad Saw, sehingga lebih banyak mengetahui sebab-sebab ayat-ayat Al-Qur’an itu diturunkan.
       Ayat-ayat Al-Qur’an pada garis besarnya dapat dibedakan antara ayat-ayat Muhkamat dan ayat-ayat Mutasyabihat. Meskipun sebagian ulama cenderung pasrah dalam menyikapi ayat-ayat Mutasyabihat, para saintis hendaknya menyikapinya sebagai tantangan dan sekaligus bahan kajian untuk mengembangkan penalaran ilmiah. Karena, Al-Qur’an ini diturunkan agar dibaca, dipahami dan diamalkan pesan-pesannya, maka untuk menafsirkan ayat-ayat dan menangkap isyaratnya adalah tugas manusia ;  karena Al-Qur’an ini diperuntukkan sebagai petunjuk bagi manusia.
      Oleh sebab itu, bila kita ingin mengkaji dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an dengan baik sedangkan kita tidak menguasai bahasa aslinya (bahasa Arab), maka sebaiknya kita dapat memper- gunakan beberapa sumber rujukan, seperti: terjemahan, jika mungkin dalam beberapa bahasa, dan perlu pula didukung oleh sains.

Keraguan terhadap Al-Qur’an
       Sejak awal turunnya Al-Qur’an sampai sekarang banyak orang yang meragukan Al-Qur’an atau tidak mau mempercayai dengan berbagai macam dalih, meskipun sudah ditunjukan bukti-bukti kebenarannya. Mereka menuduh bahwa Al-Qur’an merupakan hasil dari sihir Muhammad;  Al-Qur’an hanya jiplakan dari alkitab milik kaum yahudi dan kaum kristen dan lain sebagainya.
      Meskipun pihak kompetensi nampaknya berhasil membuktikan kekeliruan sejumlah argumentasi aktivis liberalisasi Islam, penulis juga merasa masih risau dengan keseriusan kaum Muslimin menghadapi serbuan pemikiran orientalis di bidang Al-Qur’an ini. Mereka bekerja luar biasa untuk meruntuhkan Al-Qur’an. Selama puluhan tahun mereka mengumpulkan berbagai manuskrip dan berkeliling ke berbagai negara Arab untuk itu. Lebih berat lagi, faktanya, ‘murid-murid orientalis’ dari kalangan Muslim kini juga aktif ikut menyerang Al-Qur’an.
      Al-Qur’an adalah kitab suci yang andai pepohonan di dunia di jadikan pena serta seluruh samudera menjadi tintanya, tak kan habis mengurai makna-makna Al-Qur’an. Mengapa? Karena Al-Quran adalah Kalamullah Dzat Pencipta langit dan bumi dan seisinya. Dzat yang tentunya Maha Mengetahui tentang apa yang terbaik untuk makhluk-Nya.
        Namun demikian, tabiat buruk manusia yang selalu ‘melampaui batas’ dan ‘berpaling’ telah memposisikan Al-Qur’an sebagai objek cemoohan, pelecehan dan pengingkaran. Tentu, bukan hanya orang kafir saja yang melakukannya, diantara mereka adalah orang Islam itu sendiri. Betul... tanpa disadari, umat Islam telah mengotori Al-Qur’an baik langsung maupun tidak langsung. Yaitu ketika Al-Qur’an dipinggirkan dari kancah kehidupan.
       Realitas inilah yang terjadi. Al-Qur’an hanya dibaca beramai-ramai ketika ada upacara kematian orang yang mungkin selama hidupnya tidak pernah mambaca bahkan menyentuh Al-Qur’an. Hari turunnya Al-Qur’an memang dimeriahkan bahkan menjadi hari nasional di berbagai negeri muslim. Bahkan hampir setiap tahun, seni membaca Al-Qur’an dilombakan dari tingkat kecamatan hingga internasional. Tapi, untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai tuntunan, semua serempak menjawab “nanti dulu... “. Untuk mereka-mereka inilah kiranya Allah telah mempertanyakan melalui firmanNya : “..; Maka kepada berita  manakah lagi  mereka  akan  beriman selain kepada Al-Qur’an itu ?” (QS. Al-A’raf: 185).

Mungkinkah Islam tanpa Al-Qur’an ?
      Sejarah atheis dalam Islam memang tidak banyak dikenal, bahkan hampir dinyatakan tidak pernah ada. Alasanya adalah tidak mungkin ada atheis dalam Islam. Mungin secara ringkas dapat dikatakan disini bahwa kata ateis dalam hal ini dapat diungkapkan sebagai Islam tanpa Al-Qur’an. Mungkinkah Islam tanpa Al-Qur’an ? Karena Al-Qur’an disini dianggap tidak ada sebagai konsekuensi dari tidak diakuinya keberadaan kenabiaan. Dalam kerangka yang lebih besar mungkinkah beragama tanpa kitab suci ?
       Atas pertanyaan ini, para orientalis memberikan perhatian yang besar terhadap spirit atheis dalam Islam yang memiliki sejarah mengasyikkan. Mereka memberikan perhatian lebih terhadap sejarah ini, sebab kebanyakan teori aliran Mu’tazilah tidak dapat dipahami tanpa mengetahui berbagai perseteruan yang sengit antara tokoh-tokoh Mu’tazilah dan kelompok ateis, sebagai kelompok yang mengobarkan perseturuan. Adanya perseturuan inilah yang mendesak kelompok Mu’tazilah untuk mengambil sikap tersendiri dalam menghadapi kelompok tersebut. Bahkan, seandainya kita berkesempatan untuk mengkaji pembentukan berbagai teori yang dimiliki oleh aliran Mu’tazilah secara teliti dan cermat mengamati perkembangannya dan menggambarkan kecenderungan yang diikutinya, pastilah kita dapat menemukan bahwa ateis memiliki pengaruh besar dalam pemben- tukannya.
        Oleh sebab itu, bila hingga saat ini masih ada pihak-pihak yang mengklaim dirinya seorang muslim, namun baik secara tersembunyi maupun secara terang-terangan menyatakan bahwa sebenarnya hukum Allah itu tidak ada, bahkan sama sekali tidak mempercayai adanya hukum Allah, maka itulah bagian dari perjalanan sejarah kelam yang selama ini banyak ditutup-tutupi;  yaitu sejarah Ateis dalam Islam.

Generasi Al-Qur’an
        Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya di awal periode Islam disebut sebagai ‘Generasi Qur’ani’.  Mereka merupakan generasi terbaik Islam yang pernah hadir di tengah umat manusia. Generasi inilah, menurut Sayyid Quthub, yang ditunjuk oleh firman Allah : “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada kebaikan, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (Ali-Imran:110). Generasi terbaik Islam seperti diatas, menurut Quthub, belum pernah lahir kembali, sampai masa kita sekarang.  Padahal, lanjutnya, Al-Qur’an masih di tangan kita, tetap utuh seperti dahulu.
       Sementara itu kaum Yahudi Kembali berusaha menyusupkan kekuatan spiritual dan motivasi-motivasi keagamaannya. Dengan kekuatan itu mereka kembali membangunkan umatnya dari ketertidurannya, kembali mengumpulkan kelompok-kelompoknya yang terpecah-belah, dan kembali menghidupkan bahasanya dari kematiaan. Hingga suatu saat mereka kembali menghadapi kita dengan Taurat ditangan, sementara kita tidak lagi memiliki Al-Qur’an ! . “Mereka” kembali bersatu dalam agama Yahudi sementara kita telah terpisah jauh dari Islam! Mereka kembali pada ajaran-ajaran Talmud, sementara kita hanya merasa bangga dengan Bukhari dan Muslim! (DR. Yusuf Qardhawi; Titik Lemah Umat Islam; 2001).
        Kembali pada konteks ayat tersebut diatas (QS. Al-Baqarah : 269), dimana Allah telah menjanjikan kepada kita semua bahwa : “Allah menganugerahkan Al-Hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki;...”. Pertanyaannya, siapakah dan bagaimanakah orang-orang yang Dia kehendaki tersebut?
        Bila kita kembali mengacu pada surat Al-Baqarah ayat 152 yang berbunyi “Faz-kuruuniii  ‘az-kurkum washkuruu lii wa laa takfuruun” (Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku Ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari Nikmat-Ku). Maka, mudah-mudahan kita semua sepakat bahwa orang-orang yang ’Dia’ kehendaki, tentunya adalah orang-orang yang menghendaki anugerah Allah tersebut! Untuk itu kiranya kita wajib memanjatkan do’a dengan khusyuk kehadirat-Nya : “Allah-humma a-‘innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika”.  Insya Allah !!!


                                                                                ==@==
                                                                           [15/12/2012]

Oleh : Chairullah Idris  ~  e-mail : chairullah.idris@gmail.com