Sabtu, 16 Februari 2013

AYAT-AYAT YANG MENJELASKAN (Qadha & Qadar)

AYAT-AYAT YANG MENJELASKAN
         (Qadha & Qadar)
    
   “ Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan, dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus ’’ (QS. An-Nur:46),

   Rukun iman, mula pertama dipresentasikan oleh Nabi Muhammad Saw kira-kira antara tahun 622-624 Masehi di hadapan para sahabatnya di Masjid Madinah (Yatsrib). Kehidupan para sahabat Nabi terutama yang menghayati ketika Rukun Iman itu dipresentasikan dan dinyatakan oleh beliau sebagai intisari ajaran agama Islam (disamping Rukun Islam) yang tercantum dalam Al-Qur’an, maka mereka menjalani hidupnya sesuai dengan tuntunan tersebut dalam arti yang seluas penghayatan mereka. Adapun Rukun Iman yang dipresentasikan tersebut mencakup 6 (enam) perkara masing-masing : Beriman kepada Allah, Rasul-RasulNya, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitaNya, Hari kemudian, serta Qadha & Qadar.
        Yang menarik untuk dikupas dalam kesempatan ini adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi dasar penetapan unsur-unsur Rukun Iman tersebut sbb: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi;... “(QS. Al-Baqarah:177). “Barang siapa yang kafir kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, dan Hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya” (QS. An-Nisa:136).
       Dalam bukunya berjudul Sejarah Hidup Muhammad, Husain Heikal dalam salah satu bab memaparkan pandangan dari Washington Irving atas kandungan ayat-ayat tersebut diatas. Orientalis berkebangsaan Amerika tersebut dalam abad ke-19 telah menulis buku tentang sejarah hidup Nabi. Dalam buku itu dibentangkan sejarah Nabi itu dengan kemampuan retorika yang cukup besar sehingga tidak sedikit bagian-bagian yang dapat memikat hati para pembacanya. Disamping kemampuanya itu, kadang terlihat juga kejujurannya, tapi kadang tampak pula ketidak-tolerannya dan juga penuh prasangka. Buku tersebut disudahi dengan sebuah penutup yang menjelaskan pokok-pokok ajaran rukun Islam, serta apa yang dikiranya sumber-sumber yang berdasarkan sejarah yang telah dijadikan landasan ajaran itu, didahului dengan soal keimanan kepada Tuhan, kepada para Malaikat, Kitab-kitab, para Rasul dan Hari kemudian.
       Lebih lanjut ia mengatakan, Rukun keenam dan terakhir adalah Jabariah. Paham Jabariah ini berpendapat bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan perbuatannya, sehingga manusia tidak dapat berbuat lain dari pada sudah ditakdirkan Tuhan. Paham ini sering disamakan dengan ‘Fatalisma’ dan ‘predestination’. Kebalikan dari paham tersebut diatas adalah Qadariyah yang berpendapat bahwa Tuhan hanya menciptakan manusia tapi tidak menciptakan perbuatannya. Kedua aliran paham ini timbul sekitar abad ke-8 Masehi.
       Pada bagian lain, yang bersangkutan menguraikan bahwa menurut Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah:177), rukun Iman ada lima, yang keenam, yaitu Jabariah tidak ada. Paham ini menurutnya didasarkan kepada hadis, yang menurut beberapa ahli,  sanadnya tidak begitu kuat dan dianggap bertentangan dengan Al-Qur’an.
       Sebagaimana dikemukakan diatas bahwa disamping terlihat adanya kejujuran, tapi kadang tampak pula Irving tidak toleran dan penuh prasangka, dan hal inilah yang menjadi kewajiban kita sebagai muslim untuk menjelaskan dan meluruskan pendapat atau kajian-kajian yang didasari oleh maksud-maksud terselubung, yang pada akhirnya bermuara pada perbedaan pendapat dan tak jarang mengarah pada perpecahan.
        Mengungkap makna, kandungan, dan hikmah Al-Qur’an, sungguh merupakan suatu pekerjaaan yang tidak mudah. Menyampaikan ‘pesan Allah’ yang merupakan Dzat Yang Tak Terbatas ke dalam pemahaman manusia yang terbatas ini tidak saja memerlukan suatu kearifan, ilmu, ketulusan hati, dan kebersihan jiwa, tetapi lebih dari itu, menuntut adanya ‘kedekatan’ jiwa antara mahluk dengan Khalik-Nya. Meski begitu, tidak berarti bahwa upaya tersebut harus terhenti. Terbukti, bahwa sejak dulu hingga sekarang, upaya penafsiran Al-Qur’an masih terus berlangsung.
        Telah berabad-abad Al-Qur’an ditafsir ditengah peradaban dan pergaulan umat manusia. Selama sejarahnya yang panjang itu ia telah berperan sebagai unsur utama pembentukan kepribadian ajaran Islam. Al-Qur’an berkedudukan sebagai Kitab Suci, yang merupakan sumber utama rujukan segala hal yang bersangkut paut dengan kepercayaan, peribadatan, pedoman moral, perilaku individual dan sosial-kemasyarakatan. Kitab Suci ini juga menjadi sumber ilham dan rujukan karya-karya sastra besar dan telah memberi inspirasi bagi pertumbuhan ilmu-ilmu Islam. Pemeluk agama Islam meyakini benar bahwa kalam Ilahi ini merupakan mukjizat abadi penutup kerasulan dan kenabian. Jika kita hendak mengetahui wajah, watak dan hakikat ajaran Islam yang asli, maka kita harus menatap kepada Kitab Suci ini, menyimaknya secara mendalam dan menghikmatinya.
        Dalam eskatologi Islam terdapat ramalan, prediksi, atau lebih tepatnya, Janji Allah, bahwa Dia akan memperlihatkan kepada manusia tanda-tanda atau ayat-ayatNya yang ada pada seluruh horizon dan dalam diri manusia sendiri, sehingga akan jelas bagi manusia bahwa Dia adalah benar.
        Kembali pada konteks Qadha & Qadar, Rasululah Saw pernah bersabda: “sesungguhnya seorang manusia mulai diciptakan di dalam perut ibunya setelah proses selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal darah 40 hari berikutnya, lalu menjadi segumpal daging setelah 40 hari berikutnya, setelah itu Allah Azza wa jalla mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan roh ke dalam dirinya dan diperintah dengan empat ketentuan: Rezekinya, Ajalnya, Amalnya, serta Celaka dan bahagianya” (HR. Bukhari-Muslim-Abu Dawud-at Tirmizi-Ibnu Majah).
        Kuat dugaan, atas fakta catatan sejarah yang ada, mengindikasikan adanya perbedaan pendapat antara umat Islam sendiri mengenai pemahaman atas Qadha & Qadar yang timbul sekitar abad ke-8 Masehi, dengan mendasarkan masing-masing pada QS. Al-Baqarah: 177 & An-Nisa: 136 serta Hadis Shahih tersebut diatas. Sehingga karena rumit dan kompleksnya masalah ini, maka telah memecah umat Islam ke dalam 4(empat) golongan (Firqah) yang nampaknya sulit untuk didamaikan. Menurut Bey Arifin dalam bukunya berjudul ‘Mengenal Tuhan’ keempat golongan tersebut, masing-masing Qadariyah,  Jabariah,  Mu’tazilah dan Ahlu Sunnah Wal Jamaah.
*  Golongan Qadariyah, menolak paham tentang Qadha & Qadar, dan berpendirian bahwa semua tindak-tanduk dan tingkah laku serta perbuatan yang baik maupun yang buruk, semua itu adalah sepenuhnya atas kemauan dan perbuatan manusia sendiri. Dengan pendirian ini, mereka bermaksud untuk membersihkan Tuhan dari perbuatan yang tak baik dan kejam.
* Golongan Jabariah, adalah kebalikan dari pendirian golongan Qadariyah. Mereka berpendapat bahwa semua tindak-tanduk manusia serta perbuatan baik maupun buruk yang dilakukan manusia, adalah Qadha & Qadar Tuhan, dan juga berasal dari Tuhan. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa Tuhan tidak lemah, namun mereka sudah terlanjur mengadreskan semua kesalahan dan kejahatan yang dilakukan manusia menjadi kesalahan Allah semata, dan Tuhanlah yang menentukannya.
*  Golongan Mu’tazilah, berpendirian bahwa semua perbuatan yang jahat dan tidak baik adalah sepenuhnya dari ikhtiar manusia, bukan karena Qadha & Qadar Tuhan. Namun semua perbuatan manusia yang baik dan bermanfaat, adalah atas Qudrat dan Iradat Tuhan.
*  Golongan Ahlu Sunnah Wal Jamaah, yaitu golongan yang selalu mendasarkan pendapat dan pendirian kepada Kitab Suci Al-Qur’an dan Hadis Nabi Saw. Mereka tidak menetapkan sesuatu semata-mata dengan akal dan pikiran sendiri, tetapi harus berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis. Golongan ini menolak sekeras-kerasnya akan paham dari golongan Qadaryah, Jabariyah dan Mu’tazilah. Mereka tidak mengingkari akan ikhtiar dari manusia, bahkan berpendapat semua perbuatan manusia adalah dari Allah dan juga dari ikhtiar manusia sendiri. Meskipun ajaran tentang takdir (Qadha & Qadar) tidak secara tersurat ada dalam QS. 2 : 177 & 4 : 136, namun pendapat yang menyatakan bahwa rukun Iman yang ke- enam tersebut berasal dari hadis serta bertentangan dengan Al-Qur’an adalah kurang beralasan, karena berdasarkan surat: An-Nur  ayat : 46, Allah telah menegaskan bahwa Dia telah Menurunkan ayat-ayat yang Menjelaskan, Dan kiranya kita berkenan untuk sepakat bahwa yang dimaksudkan dengan ayat-ayat yang menjelaskan tersebut diantaranya adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan Kekuasaan dan KehendakNya terhadap hamba-Nya atas rezeki/nikmat, ajal/kematian, amal perbuatan, serta celaka dan bahagia sbb :
Rezeki/Nikmat
       Meski rezeki/nikmat telah ditetapkan sesuai kehendakNya, namun Allah masih berkenan dan berkehendak untuk melapangkan dan menyempitkan, serta mengubah dan melebihkan rezeki-Nya tergantung kemampuan/upaya hamba-hamba-Nya. (lihat/baca: QS. Al-Anfal: 53;  Ar-Ra’d:11;  Saba’: 39;  An-Nahl :71;  Al-Ankabut : 62;  Az-Zumar : 52 ;  Ar-Rum : 37).
Ajal/Kematian
      Dalam proses penciptaan manusia, ditetapkanlah ajal (kematiannya) yang tidak dapat dirubah-rubah waktunya. Tidak ada suatu umat-pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak pula dapat mengundurkanya. (lihat/baca: QS. Al-a’raf: 34;  Ali-Imran: 145;  Al-An’am : 2;  Al-Mu’minum: 43;  Yunus: 49;  Al-Hijr: 5;  Al-Munafiqun: 11;  Al-Mu’min: 67).
Amal Perbuatan
        Amal perbuatan manusia telah ditetapkan Allah pada saat pertama diciptakan, apabila manusia ingin selalu memperoleh kebenaran-Nya tiadalah ragu-ragu terhadapNya dan AgamaNya. Dalam perjalanannya, jiwa/roh-pun dapat diilhami ketakwaan maupun kefasikan (liha/baca: QS. Al-Isra’: 13;  Al-Baqarah: 147 & 169;  AS-Syams: 7-8).
Celaka/Bahagia
       Takdir baik dan buruk, berencana maupun rahmat pada prinsipnya datang dari Allah. Bila kita beriman dan bertakwa serta mohon perlindunganNya maka kemudaratan apapun akan dapat dicegah/dihilangkanNya. Bencana/musibah yang akan ditimpakan Allah, semata-mata agar umatNya beriman kepada-Nya (lihat/baca QS. At-Taubah: 51;  Al-Ahzab: 17;  Ar-Rum: 36; At-Taghabun:11; Al-An’am: 17;  Ali-Imran: 166;  Al-Hadid: 22; Asy- Syura: 30;  An-Nahl: 53).
        Dari uraian, serta pemaparan ayat-ayat tersebut diatas, kiranya dapat dipetik makna bahwa, hanya ajal / kematianlah dari takdir Allah (Qadha & Qadar) yang tidak dapat di tawar-tawar. Sifatnya mutlak dan absolut. Sedangkan selainnya seperti rezeki, amal perbuatan, serta celaka / bahagia disamping telah ditentukan oleh Allah, juga masih dimungkinkan kepada manusia untuk berikhtiar/berusaha meningkatkan, baik upaya kehidupan duniawi maupun peningkatan iman, taqwa dan amal saleh yang selalu diiringi do’a dan taubat kepada Allah Swt. Semoga kita selalu dibukakan pintu hidayah serta memperoleh taufik-Nya untuk menatap kepada Kitab Suci Al-Qur’an ini, dengan menyimak dan memahami secara mendalam serta menghikmatinya untuk kemudian diamalkan / diaplikasikan dalam kehidupan keseharian kita. Dan semoga pula dari kajian ini kita dapat mulai menghindari adanya perbedaan pendapat khususnya pemahaman atas Qadha & Qadar dengan berpegang pada Firman Allah sbb: “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS.An-Nisa: 59). Amien....!!!  Wassalam..

                                                                        ==@==

Rabu, 23 Januari 2013

Satu diantara PERINGATAN ALLAH Swt



Satu diantara    
Peringatan Allah Swt     
    
      Dari sekian banyak peringatan Allah kepada hamba-Nya, salah satu diantaranya adalah peringatan akan sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap Muslim yang disampaikan-Nya melalui surat Al-Baqarah ayat 120: “Wa lan tardaa ‘ankal-Yahuudu wa lan-Nasaaraa hattaa tattabi’a millatahum, qul inna hudallaahi huwal-hudaa, wa la’init-taba’ta ahwaa’ahum ba’dal-lazii jaa’akaminal-‘ilmi maa laka minallaahi miw waliyyiw wa laa nasiir”, yang artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti ‘ millah’ mereka. Katakanlah: sesungguh nya petunjuk Allah, itulah petunjuk yang benar; dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepada kamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.  
      Demikian pula sabda Rasulullah s.a.w: Kamu akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan bila mereka masuk ke dalam lubang biawak pun, akan mengikutinya. Aku bertanya: Apakah  mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani ? Rasul menjawab: Siapa lagi selain mereka (HR.Bukhari).   
     Memang dalam perjalanan sejarah, upaya yang tak henti-hentinya dengan berbagai cara dan methode terus digulirkan. Sejak terjadinya Revolusi Industri di Eropa, yang berlangsung secara luar biasa dan memberikan dampak sangat besar terhadap kekuatan negara-negara Eropa tersebut, kaum Muslimin terhenyak dan mengalami kebimbangan dalam menyikapi revolusi tersebut. Dalam keadaan bimbang dan bingung, dan seiring pula dengan perkembangan kapitalisme yang mendasarkan Teori  Evolusi dari Darwin dan Malthus yang menyatakan bahwa kelas-kelas dalam Masyarakat itu perlu ada; perlu ada perang, sehingga perlu ada yang menjajah dan yang dijajah, maka tak ayal lagi bertambah luaslah jangkauan penjajahan atas  blok timur (Islam) oleh  blok  barat. Lebih lanjut Malthus mengatakan  bahwa perkembangan populasi tidak seimbang dengan kebutuhan makan. Untuk mengembangkan dua hal tersebut, perlu ada perang; kelaparan dan bencana, dan kemudian terjadilah kekejaman dan kelaliman antara lain di Benggala yang diciptakan dalam bentuk bencana kelaparan yang cukup hebat.
     Di pihak lain, kehancuran Turki Utsmani, ditandai dengan naiknya boneka Yahudi Kemal Attaturk ke puncak kekuasaan pada tahun 1924. Kepemimpinan Attaturk menjadi lonceng kematian bagi lahirnya kembali payung umat Islam yang bernama khilafah untuk membela kepentingan dunia Islam. Kehancuran ini telah membuat dunia Islam kehilangan jati diri dan kekuasaan dimata dunia. Orang-orang Yahudi dengan bantuan organisasi Salibis Internasional dan negara-negara kolonialis  Barat terus-menerus menyebar permusuhan dan rasa kebencian terhadap umat Islam. Hingga saat ini, dalam usianya yang kurang lebih 1500 tahun, Islam masih tetap disalah-pahami oleh Dunia, terutama Barat, lebih dari agama-agama lainnya.
    Kesalah-pahaman yang menyebabkan tertanamnya kebencian itu telah ada sejak disinformasi tentang Islam dan kaum muslim oleh Paus Urbanus V, yang hingga saat ini masih membekas di benak orang-orang Nasrani. Hal tersebut dapat kita lihat dari pernyataan Perdana Menteri Italia Berlusconi di depan publik di Roma beberapa hari setelah peristiwa 11 September 2001 yang antara lain: Islam adalah ajaran yang kurang beradab dan kedudukannya di bawah agama Kristen yang telah mampu mendorong demokrasi dan kesejahteraan di dunia. Ditambahkannya, Peradaban Barat lebih superior, karena menjamin penghormatan pada hak-hak azazi manusia, hak politik, dan hak beragama. Barat harus yakin akan superioritas peradabannya. Barat harus mampu menaklukkan orang Islam seperti halnya mereka menaklukkan komunisme. Itu pula sebabnya mengapa ketika Turki modern mengajukan permohonan untuk masuk sebagai negara anggota Uni Eropa, kanselir Helmuth Kohl dari Jerman berujar, Kita tidak dapat membayangkan ada sebuah negara Islam menjadi anggota dalam suatu federasi Eropa, Eropa adalah Kristen, dan akan tetap menjadi Kristen.
      Demikianlah sekelumit ilustrasi, atas apa yang telah diperingatkan Allah swt maupun Rasulullah  terhadap umat Islam sejak sekian abad yang lalu. Namun apa gerangan yang membuat masyarakat Barat begitu geram dan cemas terhadap Islam dibandingkan dengan peradaban yang lain ?. Ada beberapa penyebabnya, antara lain :
Motif Dendam 
      Perang melawan bajak laut diabad ke 19 dan perang membasmi terorisme Internasional diabad ke 21, mempunyai latar-belakang berdasarkan keinginan balas-dendam dialam bawah sadar masyarakat Barat, yang mengalami trauma sebagai dampak dari kegagalan bangsa-bangsa Kristen Eropa dalam Perang Salib, serta ketakutan kepada ancaman kekuatan Islam yang pernah menghantui bangsa-bangsa Eropa untuk masa yang cukup lama.
Motif Ekonomi
      Menurut Paul Johnson, seorang sejarawan sayap-kanan Inggris, penaklukan kaum imperialis Barat terhadap negara-negara Islam pada abad ke 19 tidak ada kaitan dengan seruan pembasmian-perompakan di laut, tetapi merupakan pertarungan negara-negara kapitalis guna memperkuat posisi tawar mereka dalam persaingan global untuk meraih laba, pasar, dan sumber-sumber daya alam, sama halnya seperti perang membasmi terorisme dewasa ini, yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang serupa. Kalau dahulu motifnya adalah rempah-rempah dan emas, maka sekarang beralih ke minyak.
Motif Hegemoni     
      Pembasmian terorisme dan pencegahan akumulasi senjata-senjata pembunuh massal yang ada di tangan negara-negara yang tidak bertanggung jawab kini menjadi acuan dalam mendefinisikan kepentingan nasional Amerika. Ancaman If youre not with us, youre against us cukup membuat negara-negara lain (Muslim) ketakutan dengan akibat-akibat berupa sanksi ekonomi, politik, dan militer. 
     Ketiga motif tersebut diataslah yang lazim mereka sebut dengan semangat Gold, Glory, dan Gospel. Semangat inilah yang semakin menjadikan Barat ingin tetap menguasai dunia, khususnya Amerika yang telah mengklaim dirinya sebagai globo-cop (polisi dunia), yang mulai memobilisasi dukungan internasional dalam kampanye perang menumpas terorisme.
     Lalu bagaimana halnya dengan posisi umat Islam serta bagaimana menyikapi keadaan yang berkembang saat ini ?

POSISI UMAT ISLAM
     Setelah melampaui masa kejayaannya, hingga kini, belum ada generasi muslim yang mampu membangkitkan dan menata kembali puing-puing sejarah umat Islam. Islam memang menjadi salah satu agama yang mempunyai jumlah  penganut  terbesar  di dunia. Namun, jika dilihat posisi dan kondisi sosial ekonomi dan politik, nasib umat Islam masih sangat memperihatinkan. Di bidang ekonomi mereka mempunyai  income per capita  yang rendah, apalagi di bidang teknologi.
     United Nation Development Programme (UNDP) pada tahun 2001  menerbitkan suatu laporan tentang Technology Achievement Index. Dalam laporan tersebut, tidak ada satu negara pun yang berpenduduk mayoritas Muslim yang masuk kelompok pertama (leaders). Hanya Malaysia saja yang masuk dalam kelompok kedua (potential  leaders), selebihnya termasuk Indonesia masuk kelompok ketiga (dynamic adopters) dan kelompok  keempat  (marginalized). Negara-negara muslim, utamanya yang tergabung dalam Organisasi Konprensi Islam (OKI), hampir tidak mempunyai bargaining position(posisi tawar) yang kuat dan memadai menghadapi kekuatan hegemoni Barat (AS) dan Zionis. Posisi umat Islam sebagaimana yang digambarkan Nabi saw, bagaikan buih di lautan.
     Pertanyaannya, mengapa semua ini bisa terjadi ?. Semua ini berawal dari tidak bersenyawanya umat Islam dengan Islam yang menjadi keyakinannya. Allah, dalam surat Ali Imran: 28, telah memperingatkan , Janganlah orang-orang  mukmin  mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Namun, justru kaum Muslimin saat ini mengambil ajaran dan ideologi orang kafir sebagai pedoman hidupnya, mengais-ngais harta pinjaman darinya, bahkan menyerahkan segala urusan kaum Muslimin pada mereka. Padahal Allah telah mempe-ringatkan pula dalam lanjutan ayat yang sama, Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.     

BAGAIMANA SIKAP KITA ?              
       Memang harus kita akui, dan sebenarnya tidak bisa dihindari adanya kebutuhan akan pembaruan pemikiran dalam dunia Islam, terlebih lagi dalam era globalisasi. Tapi pembaruan tidak boleh dilakukan dengan memaksakan unsur luar terhadap Islam, melainkan harus muncul dari dalam diri Islam itu  sendiri. Langkah apa yang harus diambil oleh dunia Islam dan umat Islam dalam menghadapi ancaman global hegemony yang terkemas dalam suatu grand strategy? Tidak lain; pertama, komitmen kaum muslimin untuk berpegang teguh pada agama yang mereka anut, sebagaimana telah diperingatkan Allah melalui surat Az-Zukhruf ayat 43, dan sejalan dengan itu melalui lanjutan surat Al-Baqarah ayat 120 sebagaimana tersebut diatas , Allah telah mengingatkan kita “ qul inna hudaa Allaahi huwa al-huda” yang artinya: ‘Katakanlah : sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar.  Petunjuk Allah tidak lain adalah Kitabullah. Untuk itu marilah kita kembali kepada Al-Quran dan menjadikannya sebagai pedoman / petunjuk jalan hidup kita, baik dalam tataran keluarga; bermasyarakat; maupun berbangsa. Bila kita mengabaikannya, maka dalam lanjutan ayat yang sama, Allah telah berjanji: Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi Pelindung dan Penolong bagimu”. Kedua, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah. Satu dan lain karena kekuatan umat terletak pada kekuatannya sebagai jamaah baik pada lingkup nasional maupun global,secara vertikal maupun horizontal. Ukhuwwah Islamiyyah menuntut adanya mutual-trust(saling percaya atas dasar kesetiaan kepada amanah) antara komponen dan antar-komunitas Islam. Untuk itu upaya membangun ukhuwwah Islamiyyah menuntut hadirnya pemerintahan yang bersih, kuat dan berwibawa. InsyaAllah..!!
      Al-Quran adalah merupakan peringatan bagi umat manusia agar tetap berada pada jalan yang diridhoi-Nya. Dikatakan peringatan, karena hal-hal yang terdapat dalam kandungan al-Quran, sebenarnya bagi orang-orang yang telah mengetahui, kiranya masih perlu selalu diingatkan secara berulang-ulang akan hal-hal yang sebenarnya telah diketahui. Satu dan lain, karena bagi orang yang sudah mengetahui dan bila kemudian menolak atau mengingkari, maka yang bersangkutan termasuk orang yang kafir (QS. Ali-Imran : 100).    Wassalaam....!!!

                          
                                                                               ==@==
        
Oleh : Chairullah Idris | 18/12/2012